16 Februari 2011

Liputan "Batavia 1740 Sebuah rekonstruksi sejarah"

Saat kuliah dan berada disemester 7. saya mendapatkan mata kuliah Jurnalistik media Elektronik. Mata kuliah tersebut hampir sama dengan mata kuliah lain. Memberikan teori-teori, definis dan lain-lain, tambahannya adalah sedikit cerita tentang suatu peristiwa atau berita yang lagi diangkat media elektronik , hal itu sering diceritakan oleh dosen saya.
Ketika dosen saya memberikan tugas Liputan Hard news dan Soft News, saya langsung semangat pada saat itu.
Berbekal PKL saya disalah satu stasiun TV  dimana pemiliknya merupakan anak mantan penguasa (Siapa lagi, pasti tau kan) tapi sekarang telah jatuh ketangan orang lain. Saya langsung menentukan peristiwa-peristiwa apa saja yang akan diambil. saya sangat bersemangat sekali pada saat itu.
Ketika saya telah menentukan peristiwanya, saya (Kameramen) dan Dhini (Reporter) janjian pada suatu hari untuk melakukan peliputan.
Ketika hari itu tiba, saya pun janjian didepan atm banyak dicijantung Mall agar bareng menuju lokasi peliputan.
Liputan tersebut untuk meliput Hari Bebas Kendaraan dan oleh-oleh haji karena pada saat itu kebetulan bulan haji maka Oleh-oleh Haji mendjadi bahan liputan kami. Ketika saya sampai dikampus saya yang lokasinya tepat berada di belakang Sensi, saya langsung memarkirkan motor saya. Setelah berSMS dengan teman-teman kelompok saya yang lainnya. Saya menunggu mereka, saya singkat saja mereka tidak bisa datang sehingga hanya saya berdua saja yang melakukan peliputan.
Sedikit gondok tapi sudahlah pikir saya. Setidaknya bisa jadi pelajaran untuk saya ketika menjadi wartawan betulan. he he he.
Sebelum melakukan liputan Oleh-oleh Haji dipasar Tanah Abang (Lokasi peliputan). Saya pun berjalan menuju lokasi hari bebas kendaraan bermotor, saya menuju kawasan Bundaran HI pada saat itu,
ya, liputan hari bebas kendaraan juga menjadi target saya pada hari itu, tapi untuk postingannya dilain postingan aja ya.,hehehe. karena fokus pada hari itu adalah Oleh-oleh Haji.
Sungguh ajaib bagi saya, karena saya yang notabennya selalu naik motor dan jarang olahraga, dalam melakukan peliputan ini saya harus berjalan yang menurut saya cukup hebat. Saya baru tahu "Panjangnya" tangga berjalan Busway di Dukuh Atas. Oh My God..
Tapi karena adrenalin saya sudah membumbung sampai seluruh tubuh, saya cuma nyengir-nyengir dan berkata kepada Dhini. "Ini tanggannya panjang amat".
Ya, saya berspekulasi kalau pemerintah begitu sayang kepada warganya sehingga banyak fasilitas olahraga yang diciptakan tanpa terlihat sarana olahraga.
balik lagi ke liputan. setelah saya sampai di Bundaran HI (dari Dukuh Atas saya jalan sampai Bundaran HI, Kebayang kan) Saya mengambil gambar yang dibutuhkan. Singkat kata setelah gambar hari bebas kendaraan cukup, saya pun beranjak pergi menuju PasarTanah Abang bersama Dhini.
Ya, disitu cukup terkenal oleh-oleh haji. kadang saya (pas belum tau) berpikir kenapa para hajah dan haji harus beli oleh-oleh di pasar Tanah Abang? kenapa mereka tidak membelinya ketika ditanah suci. Ketika diberi tahu hal yang sebenarnya saya pun manggut-manggut.
oke kembali ketopik.
Setelah berdiskusi dengan Dhini, akhirnya kita mengurungkan niat kita ke Tanah Abang, hal ini karena para pedangang Tanah Abang meliburkan diri ketika hari libur. Karena pada hari itu hari minggu, maka Dhini mengatakan bahwa pedagang di Tanah Abang banyak yang tutup. Akhirnya liputan Oleh-oleh Haji dibatalkan.
Saya pun berpikir, sambil melihat sekeliling yang sedikit takjub, banyaknya warga jakarta yang bersepeda pada hari itu, saya pikir, coba hari bebas kendaraan bermotor juga diadakan pada hari kerja, 2 hari saja, pasti seru. Ah sudahlah saya ngelantur lagi.
Saya pun punya ide untuk mengambil liputan tentang pemuda-pemudi yang suka mengabadikan dirinya di Kota Tua. Setelah berdiskusi dengan Dhini, kami pun sepakat dan langsung menuju kawasan kota Tua.
Saya pun (lagi) berjalan menuju terminal Bus Way yang saya lupa namanya, lokasinya setelah Plaza Indonesia. Luar biasa perjalnannya, saya seperti Indiana Jones.
Saya yang awalnya semangat dengan tugas ini, mulai sedikit goyah. "Ini tugas berat amat ya". pikir saya.  Semoga yang lain sepakat.
Setelah membayar, saya pun bisa naik Bus Way jurusan kota Tua. Ide Dhini agar saya naik Bus Way saya ancungin jempol. karena kalau saya naik motor, sudah pasti saya sudah minta pulang.huhuhu.
Terima kasih ya Sayang.
di Bus Way, saya pun mencoba mengistirahatkan kaki dan badan saya dengan tidur. Perjalanan menuju kawasan Kota Tua ternyata cukup jauh. Makin bersyukur saya kepada Allah, dan mengucapkan terima kasih kepada si Endud.
Sesampainya dikawasan kota Tua saya langsung turun dan masuk kawasan Kota Tua, sebelum masuk lebih dalam, saya mengambil gambar Establish Kota Tua baru masuk lebih dalam.
Dalam berjalan kedalam kawasannya saya perlahan-lahan mengambil gambar untuk kebutuhan gambar. Ketika sampai ditengah kawasan Kota Tua, saya sedikit terkejut, saya melihat ada beberapa orang yang mengenakan baju tua semacam baju jaman dahulu, yang dipakai oleh para penjajah.di Bumi Indonesia ini.
Sentak saya langsung menuju orang-orang tersebut, Dhini yang kaget melihat saya lari ikutan mengejar saya (Bukan main kejar-kejaran kayak orang India ya). Setelah sesampainya, tanpa minta ijin saya langsung mengambil gambar orang-orang tersebut, salah satu dari orang-orang tersebut ada artis bule yang mencoba peruntungannya diindustri entertainment di Indonesia, yaitu Jason daniels (Kalo tidak tahu, divideo yang ada diatas ada wajahnya ko, kebetulan diwawancarai).
Setelah itu mereka pun pergi begitu saja setelah saya ambil gambarnya. Saya dan Dhini pun mencoba melihat sekeliling dan Dhini menyenggol saya seraya menunjuk ke salah satu gedung. Distu ada spanduk bertuliskan Batavia 1740 Sebuah Rekonstruksi Sejarah.
Museum sejarah Jakarta ternyata menampilkan teater kolosal bertema sejarah batavia. Saya dan Dhini pun langsung sepakat bahwa Teater ini yang dijadikan bahan liputan. Saya dan dhini pun melihat sekeliling, ternyata tidak ada panggung utama. teater ini berlokasi didepan gedung Museum jakarta dan lapangan yang berada ditengahnya. merupakan panggung besar tanpa ada "panggung sebenarnya".
Saya pun mengambil establish dan gambar-gambar lain yang dibutuhkan. setelah itu Saya dan dhini pun mencari-cari Ketua panitia dari teater ini. Ketika lagi celingak-celinguk, didekat saya ada mas-mas (bukan, dia bukan ikan mas, tap mas-mas) yang sedang wawancara, wartawan tersebut adalah wartawan Kompas. Setelah mencuri dengar, saya pun ikut mengambil soundbite perempuan yang memakai gaun dengan rok seperti mangkuk terbalik ini. Yap, saya dapat soundbite ketua panitia. Alhamdulillah dimudahkan Allah SWT.
Setelah itu saya pun menunggu acara dimulai, sambil menunggu, saya dan Dhini mengincar bule yang ingin kami wawancarai. Ada beberapa bule yang ikut meramaikan teater ini. ketika ada salah satu yang mendekati kami, tiba-tiba dari belakang bule tersebut ada seorang lelaki dengan tinggi cukup, agak sedikit gemuk berkulit hitam dan memakai baju rakyat jaman dulu (tapi yang pake baju ya, bukan yang telanjang dada) memanggil bule tersebut dan berbicara dengan bahasa Inggris.
Dalam otak saya dan Dhini langsung sirna mewawancarai bule tersebut sambil saling memandang dan tertawa. Ya, hal itu karena saya dan Dhini tidak begitu lancar berbahasa Inggris.
tapi saya dan Dhni tetap kekeh ingin mewawancarai bule. Hingga akhirnya saya melihat Bule datang menuju arah saya, diama pada saat itu saya dan Dhini lagi didepan Museum Jakarta sambil berdiri kepanasan. Dia adalah, Jason Daniels.
saya dan dhini langsung berpandangan dan sepakat bule tersebutlah yang akan saya dan Dhini wawancarai. Ahey Ahey Horee.
Saya dan Dhini pun mencari cara untuk mencegat Jason (sudah seperti Doorstop aja), akhirnya Dhini menghampiri Jason yang tepat didepan saya dan meminta agar Jason mau diwawancarai. Jason ternyata mau, Wah, hati saya sudah Dag-Dig-Dug aja, hehehe. (seperti Wartawan infotainment soalnya).
Jason mengajak kami untuk melakukan wawancara diatas, tepat beberapa meter dengan pintu museum Sejarah Jakarta. kami pun mewawancarai Jason. Jason cukup bersemangat dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh Dhini (reporter).
Wawancara itu, mengakibatkan berkumpulnya orang-orang sekitar Jawaban jason cukup memuaskan, saya menemukan pernyataan yang cukup baik untuk saya masukan nanti pada saat editing.
Setelah itu saya dan Dhini pun berterima kasih kepada Jason. Saya dan Dhini pun menunggu acara dimulai.
Panas panas panas panas. kalau dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada istilah Hiperbola, maka Panas seperti hidup dan memeluk saya. Pengen mandi saat itu.
Ketika acara dimulai, saya yang bertugas memegang kamera langsung mencari-cari adegan yang menarik, Dhini pun juga bersiap menepuk untuk meberi tahu apabila ada adegan yang menarik. hal ini sulit dilakukan, seperti yang saya katakan sebelumnya. Teater ini tidak berada disatu tutik pementasan, tetapi berada ditengah lapangan yang nan luas dan Museum Sejarah Jakarta menjadi pusatnya. Tapi jarang pemain atau ada adegan seru didepan Museum Jakarta. Alhasil saya harus mengejar-ngejar pemain atau ada adegan seru. Bener-bener pengen minum pada saat itu.
Tapi Alhamdulillah saya mendapatkan gambarnya. Tapi ketika sedang asik-asiknya mengambil gambar, Batre handycam habis. Saya dan Dhini pasrah dan mencari colokan gratis untuk saya masukan dan mencharge handycam saya. Ternyata saya tidak temukan juga. akhirnya saya masuk kedalam Museum Wayang yang jaraknya tidak jauh dari Museum Jakarta. Dengan biaya Rp. 2000 perorangf. Saya pun masuk bersama Dhini. Saya langsung mencari colokan untuk mencharge (maaf charge tanpa bilang-bilang ya bapak petugas di Museum Wayang). Akhirnya saya pun menemukan colokan tersebut yang berada dilantai 2 Museum Wayang. Sambil mencharge saya dan Dhini beristirahat dan membuat naskah dari teater tersebut
Hampir 1 jam lebih saya mencharge handycam saya, setelah saya cek, handycam siap bertugas kembaili. Saya dan Dhini, berberes dan bergegas keluar dari museum Wayang dan menuju pementasan teater kolosal yang saya dan Dhini liput. Dengan cemas, saya dan Dhini berjalan cepat karena takut teater sudah selesa.
Ketika diluar dan menuju Museum Sejarah jakarta, pementasan belum selesai, saya lega mendengarnya, saya langsung mengambil gambar yang saya butuhkan.

Setelah teater selesai, maka selesai juga liputan. Saya dan Dhini bernafas lega. Akhirnya olahraga berat yang saya lakukan selesai sudah.
Saya dan Dhini pun langsung pulang karena hari sudah mulai gelap. menuju terminal Bus Way dan pulang menuju kampus untuk mengambil motor saya.
Sebelum pulang kerumah saya, saya ada tugas lain, yaitu menganter Dhini kerumahnya.
Sesampainya dirumah Dhini, saya tidak mau berlama-lama karena badan saya sudah sangat letih. setelah pamit saya pun pulang kerumah.
Selang beberapa hari saya mencoba mengedit sendiri hasil liputan teater di kawasan Kota Tua. Karena hanya punya Movie Maker, maka saya menggunakan aplikasi yang sering ngadat dan heng ini. Hampir stres saya dibikinya.
Tapi syukur Alhamdulilah selesai juga.,
Selamat menikmati video liputan Soft News dengan tema teater kolosal Batavia 1740 sebuah Rekonstruksi Sejarah.
Angga Bratadharma dan Dhini Oktavianti dari kawasan Kota Tua melaporkan.

1 komentar:

dhinioktavianti mengatakan...

ndud,ko ga masukin video oncam kamu?
hayooo