Tampilkan postingan dengan label Human Interest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Human Interest. Tampilkan semua postingan

11 Februari 2011

This is Tom Delonge

Thomas Matthew DeLonge, Jr. (lahir 13 Desember 1975); umur 35 tahun; lebih dikenal dengan nama Tom DeLonge) adalah seorang musisi yang berasal dari Amerika Serikat dan juga seorang gitaris/vokalis untuk grup musik Blink 182 selama tahun 1992-2005.
Tom memiliki orangtua bernama Tom Connie dan Thomas DeLonge SR. Dia memiliki kakak laki-laki bernama Shon dan seorang adik perempuan bernama Kari. Ia belajar di Sekolah Tinggi Poway dan Tom memiliki reputasi sebagai pembuat masalah sekolah. suatu ketika seorang teman lama memberinya sebuah gitar untuk ulang tahunnya yang ke-15. Pada dasarnya Tom Delonge tidak mengerti harus melakukam apa dengan gitar pemberian temannya itu.
Ketika dia pergi kamp dengan teman-temannya, salah satu temannya memperkenalkan musik punkrock kepada Tom, dari situlah awal mula Tom delonge menyukai dan belajar gitar.
Tom Delonge bersama dua rekannya Mark Hoppus dan Scott Raynor mendirikan band bernama Blink 182 di San Diego, california pada tahun 1992. Band beraliran pop punk ini memiliki nuansa yang berbeda. Punk yang dikenal selalu membawakan lirik yang berisi tentang kondisi sosial, politik dan lain-lain, maka Blink 182 membawakan punk dengan lirik yang sedikit nakal dan aksi panggung yang kocak.
Tom delonge pada gitar/vokal, Mark Hoppus pada Bass/Vokal dan Scott Raynor pada drum mencoba peruntungan mereka di industri musik dengan berkiblat pada trio band legendaris yaitu Green Day. Baik jenis dan aksi panggung Blink 182 hampir sama dengan Green Day.
Pada perjalanan karier Blink 182, drumer Blink 182 yaitu Scott Raynor harus dikeluarkan personil lain akibat kecanduan alkohol dan harus direhabilitasi. bersama Scott Raynor mereka menghasilkan 4 album dari 1992 hingga 1997.
Tidak mau berlama-lama, akhirnya Tom Delonge dan Mark Hoppus merekrut drumer baru yaitu Travis Barker yang merupakan teman lama mereka. Masuknya Travis Barker membuat Blink 182 melambung naik. keindahan permainan gitar Tom Delonge, Petikan Bass Mark Hoppus serta hentakan Drum Travis Barker membuat penonton menjadi terpesona dengan aksi penggung yang disajikan.
Di tahun 1999, Blink 182 meluncurkan album berjudul Enema of the State. Lagu-lagu, seperti What’s My Age Again, All the Small Things, serta Adam’s Song. Enema of the State pun meledak 10 kali lipat dari album sebelumnya dan menembus angka 15 juta kopi.
All The Small Things pun menjadi lagu andalan pada saat itu, hal ini membuktikan bahwa punk tidak hanya tentang kekacauan tapi juga bisa bernuansa gembira dan lucu seperti yang dibawakan Blink 182
Album live berjudul The Mark, Tom, and Travis Show (The Enema Strikes Back!) muncul di tahun 2000, diikuti dengan album Take Off Your Pants and Jacket di tahun 2001.
Album Take Off Your Pants and Jaket pun juga meledak, lagu seperti Stay Together For The Kids menjadi hits pada saat itu. Pada penulisan lirik dan penciptaan musik, Tom Delonge mulai terlihat dewasa. Tom Delonge adalah personil yang paling banyak menciptakan lagu dan ujung tombak dari Blink 182. Kematangan Blink 182 terlihat ketika single Feeling This dan I Miss You yang fenomenal itu merebak di mana-mana melalui self-titled album, Blink 182 (2003).
Dalam perjalanan kariernya Tom Delonge terkadang membuat project band diluar Blink 182, Box Car Racer merupakan project Tom Delonge dan Travis Barker, yang Formasi asli dari band ini adalah: Tom DeLonge (vokal/bass), David Kennedy (gitar) dan Travis Barker (drum). Namun di saat tour dan di video klip, posisi bass di isi teman dari David Kennedy, yaitu Anthony Celestino dan pada akhirnya Tom DeLonge memegang posisi pada vokal dan gitar.
Band ini menghasilkan 1 album berjudul Box Car Racer, namun band ini hanya bertahan selama 1 tahun. Hingga sekarang Box Car Racer tidak prnah terdengar dan ada isu band tersebut telah bubar karena ditinggal Tom Delonge dan Travis Barker yang kembali ke Blink 182 untuk rekaman album “Self Titled”.
Tom Delonge telah memukau jutaan remaja dengan gitarnya. Gayanya bernyanyi sambil memainkan gitar sering ditiru oleh banyak kalangan gitaris. Bahkan rambutnya yang selalu berubah-ubah menjadi trend dan diikuti oleh para fansnya. Rambut belah pinggir yang menutupi sebelah mata ini menjadi andalan Tom pada album Take Off Your Pants and Jakcket.
Dalam DVD “Start The Machine” yang berisi tentang terbentuknya AVA atau Angels & Airwaves, ternyata Tom DeLonge hobi merekam berbagai macam suara, entah itu dari perkakas-perkakas, bunyi-bunyian alam, langkah kaki dan sebagainya untuk dimasukkan ke dalam musik. Hal ini tebukti dari lagu AVA yang berjudul The Adventure
AVA sendiri adalah band yang dibentuk oleh formasi 2005-2007, Atom Willard (drum, from The Offspring), David Kennedy (gitar), Tom DeLonge (vokal/gitar), Ryan Sinn (bass, from The Distillers).
Band bentukan Tom Delonge Angels & Airwaves ini banyak yang bilang merupakan kelanjutan dari Box Car Racer, meskipun dari musik lebih kaya akan efek-efek dan membawa materi yang lebih dewasa dibanding Box Car Racer.
Munculnya band Angels & Airwaves atau sering disebut AVA merupakan pukulan yang menyakitkan bagi Travis Barker dan Mark Hoppus. Hal ini berawal dari Tom Delonge yang merasa lelah dengan perhatian yang ada serta konser berkepanjangan, Tom berkeinginan untuk beristirahat dan lebih mendekatkan diri dengan keluarga yang sering ditinggal pergi untuk tur keliling dunia. Personil lain pun menyetujui meski tidak sependapat.
Hal tersebut memunculkan perpecahan ditubuh Blink 182. ketika Blink 182 pulang dari tur Eropa. Mereka diberi tahu telah terjadi bencana tsunami. Dari situ ada beberapa orang yang ingin mengadakan konser amal untuk korban tsunami tersebut. Mark Hoppus yang mendapat kabar itu pun berkeinginan untuk tampil di acara itu.
Tom Delonge menyetujuinya dan mulai berlatih kembali bersama Blink 182. Namun pada harinya, Mark dan Travis dipanggil manajer mereka dan secara tiba-tiba mengatakan bahwa Tom telah keluar dari Blink 182. Personil lain pun tidak bisa menghubungi Tom baik telepon maupun email. Ia bahkan mengganti nomor telepon karena tak ingin berhubungan lagi dengan Mark dan Travis.
Setelah tak saling bicara selama 4 tahun, mereka akhirnya kembali bertemu saat menjenguk Travis di rumah sakit yang tengah mengalami cedera parah akibat kecelakaan pesawat terbang. Reuni tersebut akhirnya menyatukan mereka kembali dan Grammy Awards ke-51 pada 8 Februari 2009 mereka jadikan momen sebagai kembalinya Blink 182 di dunia musik sejak terakhir main bersama di bulan Desember 2004.
Hingga akhirnya Blink 182 kembali dengan formasi, Tom Delonge pada gitar/vocal, Mark Hoppus pada bass/vocal dan Travis Barker pada Drum.

10 Februari 2011

Hendri alias Helen

Hendri (28) atau biasa di panggil Helena, yang berprofesi sebagai PSK waria di Taman Lawang ini terlihat cantik dan seksi dalam balutan yang dikenakanya pada saat itu. Waria, yang sudah 4 tahun berprofesi sebagai PSK waria di Taman Lawang ini, berasal dari Bengkulu dan baru pindah ke Jakarta pada tahun 2006 akhir. Ia diajak salah satu temannya yang tinggal di Jakarta lebih dulu. Helen panggilan akrabnya mengaku bahwa dirinya menyadari berbeda dari sesama jenisnya sejak duduk dibangku SD kelas I. Helen terbiasa bermain dengan perempuan dan memiliki teman perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Hingga akhirnya Helen pun merasa tertarik dengan laki-laki.
Masa kecil Helen, lebih banyak di habiskan dengan  bermain bersama perempuan daripada dengan laki-laki. menginjak dewasa, tingkah laku Helen pun mulai menjadi-jadi, Helen mulai berdandan seperti perempuan dan memakai baju perempuan seperti  menggunakan bedak, lipstick, eye shadow hingga baju perempuan milik saudarinya.
Anak ke 6 dari 6 bersaudara ini mengaku hanya dirinyalah yang memiliki kelainan seksualitas, orang tuanya pun tidak menyadari kelainan yang dimilikinya sejak kecil hingga sekarang ini. Sebenarnya sebagian saudara Helen yang berada di Bengkulu mengetahui kelainan orientasi seksualitas dan apa yang dilakukanya di Jakarta, tapi mereka bersikap biasa dan tidak acuh atas apa yang terjadi pada dirinya. Ketika ditanya mengapa dirinya lebih memilih menjadi PSK waria, dirinya menjawab sambil mengibaskan rambutnya “ ini karena himpitan ekonomi ”.
Awalnya ketika di Bengkulu, Helen diajak oleh temanya untuk bekerja di Jakarta sebagai pegawai salon. Pada 2006 akhir Helen pun memutuskan pindah ke Jakarta dan bekerja di salon sesuai nasihat temanya, hal itu dilakukan untuk meningkatkan taraf hidupnya yang hidup susah di Bengkulu. Ketika di Jakarta, Helen bekerja di salon salah satu kenalan temannya yang mengajaknya ke Jakarta. Seiring waktu berjalan, Helen mulai tidak betah dan akhirnya dipecat oleh pemilik salon tempat dirinya bekerja. Helen yang tinggal bersama di kos dengan teman lelakinya yang mengajaknya ke Jakarta, mencurahkan isi hatinya mengenai pemecatan itu.
Akhirnya Helen pun banting stir menjadi PSK waria di Taman Lawang. Dirinya mengaku baru 4 tahun bekerja sebagai PSK waria di Taman Lawang. Tapi pekerjaan ini bukanlah pekerjaan baru baginya, karena Helen telah lama menjadi PSK waria sejak masih tinggal di Bengkulu, meski begitu dirinya tetap berharap memiliki pekerjaan yang lebih layak ketimbang jadi seorang PSK waria.
Dalam perjalanan karirnya, Helen pun mulai membentuk tubuhnya agar mirip seperti perempuan, dirinya mulai menggunakan make up sungguhan dan membeli baju-baju perempuan yang seksi. Rambut Helen pun mulai dipanjangi agar mirip seperti perempuan, rambutnya dirawat agar halus dan bagus seperti milik perempuan yang sesungguhnya. Helen merubah penampilan secara make over, hingga sulit membedakan dirinya dengan laki-laki, kelihaiannya memake up membuat orang pangling siapa Helen sebenarnya.
Helen biasanya berangkat dari kos-kosan yang beralamat di Tebet, Jakarta Selatan dengan menggunakan trasnportasi umum, tapi Ia menggunakan baju biasa sebelum menggunakan baju kerjanya di Taman Lawang. Helen mulai mangkal di Taman Lawang pada pukul 00.00 WIB hingga 05.00 WIB.
Dalam perjalanan hidupnya, Helen pun mendapatkan dambaan hati yang mengerti dirinya. Teman yang mengajak dirinya untuk pindah ke Jakarta dan tinggal bersama dikos-kosan ini ternyata menjadi kekasih Helen hingga sekarang. Laki-laki yang tidak ingin diberitahukan namanya oleh Helen ini adalah laki-laki yang hebat menurutnya.
Walau Helen berprofesi seperti ini, tapi pacarnya tidak cemburu melainkan memberi dukungan kepadanya. Menurutnya, apa yang dirinya lakukan semata-mata untuk mencari sesuap nasi dari ibukota yang keras ini. dengan adanya pacar, Helen merasa dirinya terlindungi dari siapa pun.
Seiring waktu, Helen pun mulai kenal dengan waria-waria lain di Taman Lawang, hingga akhirnya Helen pun ikut dalam komunitas waria di taman Lawang. Komunitas ini membuat Helen lebih percaya diri, Helen di data dan dicatat dalam pembukuan komunitas, mulai dari asal daerah, alamat sekarang, tanggal lahir dan lain-lain. Helen mengaku apabila terjadi sesuatu terhadap dirinya maka komunitas ini langsung menangani dan mengurus dirinya.
Ketika mangkal di Taman Lawang, tidak langsung begitu saja mangkal di Taman Lawang tetapi ada prosedurnya. Dimana waria yang datang dan ingin mangkal di haruskan mendata dirinya di komunitas waria Taman Lawang. Hal ini agar mudah mengenal waria yang ada di Taman Lawang dan menjaga solidaritas waria sehingga tidak ada waria yang asal serobot mangkal di Taman Lawang.
Pernah suatu ketika Helen mengikuti program Be a Man yang diadakan di salah satu stasiun swasta di Jakarta, dengan bermodal percaya diri, Helen pun mendaftar dan mengikuti seleksi Be a Man bersama teman-teman waria lain. Namun untung tak dapat di raih, ternyata Helen tidak lolos seleksi Be a Man. Kesedihan menyelimuti helen pada saat itu tapi atas dukungan teman-teman waria lain serta kekasih tercinta, Helen pun kembali percaya diri untuk menatap masa depan yang lebih cerah.
Kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda, ternyata terbukti untuk Helen. Helen menyabet predikat sebagai Miss Waria pada tahun 2010 yang diadakan antar waria. Kemenangan itu membuat Helen sangat bangga dan membuat dirinya lebih dicintai oleh kekasihnya. Kegagalan yang pernah menimpa dirinya pun dia lupakan karena kemenangan yang di raihnya. Kebangaan pun memuncak karena waria yang mengikuti kontes kecantikan ini adalah waria-waria yang pernah memenangkan kontes kecantikan sebelumnya dan peserta yang mengikuti sangatlah banyak. Walau begitu Helen tidak mau menyombongkan atas kemenangan yang di raihnya, Ia memaknai kemenangan dirinya dengan membuat dirinya lebih baik lagi dari sekarang. Meski pernah meraih kemenangan kontes kecantikan waria, Helen tetap bekerja di Taman Lawang.
Walau pekerjaan yang dilakukannya berat tapi Helen lakukan dengan kesabaran, meski harus pulang pagi hampir setiap hari, Helen tetap melakukan rutinitas di pagi hari selayakanya orang biasa. Pada siang hari, Helen biasa menghabiskan waktu dengan bermain voli bersama teman-temannya di Monas, Tebet, Menteng dan lain-lain. Helen tidak memiliki pekerjaan selain menjadi waria di taman Lawang.
Setiap melayani pelanggan yang datang kepada dirinya di jalur Bus Way tempat dirinya mangkal, Helen menarifkan Rp.100.000 hingga Rp.800.000. Biasanya pelanggan dilayani didalam mobil atau Hotel, tergantung kemauan pelanggan. Tapi bagi pelanggan yang tidak memiliki uang cukup, biasanya bermain di dalam mobil sedangkan pelanggan yang memiliki uang banyak, Helen biasanya diajak bermain di Hotel yang cukup mewah. Dalam pekerjaan yang dilakukanya ini, terdapat resiko kekerasan yang dapat menimpa dirinya. Helen mengaku bersyukur karena tidak pernah mengalami kekerasan dalam melayani pelangganya. Namun teman waria Helen pernah mengalaminya dan pernah pula dilihat secara langsung temannya yang babak belur akibat kekerasan yang dilakukan pelanggan. Helen sangat menyayangkan kekerasan yang terjadi, meski waria memiliki seksualitas yang berbeda pada orang umumnya. Tapi waria tetap manusia biasa yang sama dalam hukum. Harus ada jaminan hukum atas keamanan bagi setiap manusia dan perlindungan sesuai HAM.
Dalam melakukan pekerjaan sebagai waria ini, Helen harus menyisihkan sebagian uangnya sebesar Rp.2000. per minggu untuk uang keamanan kepada preman. Preman inilah yang akan membelanya apabila ada razia waria oleh Satpol PP atau ada gangguan dari luar. Helen mengaku sangat tersiksa apabila tetangkap razia Satpol PP. Untuk bebas butuh waktu yang lama, waria yang terjaring razia biasanya harus masuk rehabilitasi terlebih dahulu baru bisa dibebaskan tapi apabila memiliki uang yang cukup untuk membebaskan diri maka bisa bebas lebih cepat tanpa harus masuk rehabilitasi.
Mami di Taman Lawang juga ada, hal ini untuk menyeimbangkan keadaan di Taman Lawang, misal ketika ada pertengakaran antara waria, maka mami akan turun tangan mendamaikan konflik yang terjadi. Oleh karenanya para waria harus menyetor uang sebesar Rp.20.000 perbulan kepada mami agar bisa tetap mangkal di Taman Lawang.
Walau terkadang ketakutan atas resiko pekerjaan yang dialaminya. Helen tetap bersabar dan tegar menghadapi kehidupannya. Helen berharap suatu saat bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekarang.
Ketika ditanya, apakah mau kembali menjadi laki-laki normal, Helen menjawab dengan santai, “kalau untuk sekarang, aku tidak mau kembali menjadi laki-laki normal”.
Sebuah dinamika kehidupan malam yang begitu berliku-liku tentang perjuangan hidup, tanpa melihat siapa dirinya tepi lebih kepada bagaimana dirinya menjadi dirinya untuk berjuang dalam hidupnya.

"Waria hanyalah manusia biasa yang sama dalam kehidupan"

                              Liputan yang memberikan pengalaman tentang kehidupan malam.