08 Oktober 2011

Media Massa Komersial yang Menyimpang

Media Massa adalah alat atau medium yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan kepada sejumlah besar orang. Dewasa kini, siapa yang tidak mengetahui media massa, dan siapa yang tidak menggunakan media massa. Hampir dari kita, pasti pernah dan telah menggunakan atau mengkonsumsi media massa, baik itu media cetak maupun media elektronik. Penggunaanya pun berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan yang dimiliki masing-masing individu.

Fungsi dari media massa, terdiri dari empat aspek, yaitu menghibur, mendidik, menginformasikan dan mempengaruhi. Namun, sekarang ini fungsi yang paling menonjol dari keempat hal tersebut adalah mempengaruhi. Yang mana media massa dapat mempengaruhi khalayak baik dari proses kognitif hingga konatif.

Bahkan Didalam Ilmu Komunikasi terdapat teori hypodermik atau teori jarum suntik. Teori ini berkutat dengan menekankan bahwa khalayak dianggap pasif dan tidak berdaya akan pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa. Dengan begitu, media massa mampu mempengaruhi khalayak dengan pesan yang disampaikanya dengan menggunakan komunikai massa.

Tetapi, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, lahir juga teori Uses and Gratification. Teori ini mempupuskan teori jarum suntik dengan mengatakan bahwa khalayak cukup aktif dalam mengkonsumsi media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan informasinya.

Hal ini terbukti bila melihat, seseorang pasti akan mengganti chanel tv mereka bila tayangan yang disajikan tidak sesuai dengan keinginan mereka, dan seseorang akan berhenti disuatu channel yang menurutnya sesuai dengan apa yang diinginkan. Ini cukup membuktikan bahwa seseorang atau individu memiliki kekuatan untuk menyeleksi penggunaan media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan informasinya.

Terlepas dari kajian ilmiah yang dipaparkan. Media massa sekarang, yang telah dijabarkan fungsi-fungsinya. Kini bisa dikatakan telah menyimpang dari kaidah-kaidah yang telah ditentukan, terutama UU Penyiaran. Sedikit menyinggung, bahwasanya media massa memiliki ideologi yang berbeda-beda, tergantung dari pemilik atau owner media massa sendiri. Baik yang bergerak dibidang komersial, idealis, maupun komersial dan idealis. Meski begitu, media massa harus tetap berada dalam fungsi-fungsi yang telah ada, yaitu menghibur, mendidik, menginformasikan dan mempengaruhi. Dan kesemuanya diharap berkombinasi dan bersinergi satu sama lainnya. Dan dalam hal ini tentu adalah fungsi-fungsi yang mengarah positif.

Penyimpangan yang terjadi sekarang ini adalah cukup banyak media massa komersial yang menyajikan informasi-informasi yang salah satunya adalah tidak mendidik. Memang pencapaian sasaran seluas mungkin yang digapai media massa, lumrah dilakukan guna meningkatkan kinerja media massa tersebut sehinga banyak iklan yang berdatangan. Tentu bukan rahasia umum lagi, bila nyawa dari media massa adalah iklan. Namun demikian, yang ditekankan dari hal ini adalah penyimpangan media massa dalam sajian informasi yang tidak mendidik dengan tujuan komersial semata.

Sistem kapitalis yang terjadi sekarang ini, menjadikan media massa marak menyajikan informasi yang tidak sesuai dengan fungsi media massa, salah satunya yaitu mendidik. Dengan tujuan komersial semata, media massa menyajikan informasi atau tayangan yang memang diminati penonton tanpa mempedulikan asas pendidikan. Seperti menayangkan kehidupan selebritis yang tidak ada kaitanya dengan mendidik, tayangan mistik, dan semacamnya. Memang taktik ini berhasil memukau para penonton untuk tertarik perhatianya kepada pesan yang disampaikan media massa.

Akan tetapi, efek dari pesan tersebut membuat masyarkat kita semakin bodoh dan menjadi barang dagangan untuk kepentingan komersial semata. Bisa kita lihat dari tayangan-tayangan seperti tayangan Gosip, sinteron yang tidak menenkankan kepada norma-norma mendidik dan logika kenyataan, sajian yang masih berbau kekerasan, berbau seksualitas dan menyoroti mistik yang melepas batasan norma. Diperparah dengan munculnya penyakit tuna norma dimasyarkat kita akibat tayangan tersebut. Menjadikan masalah penyimpangan media massa, dalam konteks masyarakat dijadikan sasaran untuk pencapaian uang semata, menjadi masalah yang harus difokuskan untuk diluruskan.

Pemerintah selaku pemegang kekuasaan pun seakan enggan, untuk ikut campur tangan terkait tayangan-tayangan yang tidak mendidik masyarakat. Bahkan Lembaga Penyiaran Indonesia dirasa tidak berfungsi dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga yang mensensor atau membredel suatu media massa yang dirasa telah keluar dari standar penyiaran.

Tentu masih ingat dibayangan kita, banyak film-film hadir dibioskop tanah air dengan mengusung aksi kekerasan dan adegan panas, tanpa ada maksud mendidik yang jelas. Dan ironinya, banyak dari masyarakat kita mengkonsumsi film tersebut. Dan belakangan ini, film-film tersebutlah yang hadir, dan seakan telah menjadi trend didunia perfilman kita.

Ironinya, para pemilik modal dan pekerja di media massa tidak memperdulikan masalah yang telah krusial ini. Bisa kita lihat sekarang ini, banyak terjadinya tindak kekerasan akibat menonton suatu tayangan yang bersifat kekerasan, terjadinya aksi pemerkosaan oleh sejumlah anak dibawah umur akibat mengkonsumsi tayangan yang membangun hawa nafsunya, adanya gaya hidup yang dianut dari suatu film dengan budaya luar yang  tidak mengenal lagi budaya sendiri yang luhur, dan semacamnya.

Tentu ini masalah krusial, oleh karenanya adanya tindakan tegas dan preventif dari pemerintah, terutama LPI. dalam membatasi tayangan-tayangan yang tidak sesuai, diharapkan muncul dengan skala masif dan pasti. Bila perlu, ada campur tangan dari pemerintah dalam hal mendidik, dan menuntun para industri media massa, untuk dapat menjalankan keempat fungsi secara berkseniambungan dan bersinergi. Dengan tujuan, menciptakan masyarakat yang unggul dan bermartabat, dan menjunjung nilai-nilai mulia.

Adanya kesadaran dari masyarakat untuk tidak mengkonsumsi media massa yang menyimpang pun diharap tumbuh, guna turut serta mengekang pembiaran media massa berbasis kapitalis berkembang dinegeri ini. Hingga rating televisi yang menampilkan informasi yang menyimpang menjadi turun drastis, dan dari situ diharap tidak adanya iklan yang masuk, dan akhirnya sadar akan kepentingan bersama dalam membangun negeri ini kepada tujuan yang mulia.

Tentu kita semua berharap akan ada media massa yang menyajikan informasi yang sesuai dengan fungsi-fungsinya. Dan sinergi dari empat fungsi tersebut. Dan hal itu diharap dalam proses masif disegala media massa, baik media cetak maupun media elektronik.

Karena baik atau tidaknya suatu masyarakat disuatu negara, ditentukan oleh media massa. Jika masyarakatnya baik, maka media massanya baik dalam menjalankan fungsinya. Namun, jika masyarakat itu tidak baik, maka media massa itu juga tidak baik dalam menjalankan fungsinya.


24 September 2011

Ruangan Khusus dengan Peraturan Tegas

Menguaknya kasus seks didalam jeruji, dan pemberitaan dibeberapa media massa, kini telah membuka rahasia yang sebelumnya mungkin tidak semua publik mengetahui hal tersebut. Memang menjadi ironi, karena penjara yang merupakan tempat terputusnya beberapa kebebasan dan tempat 'dibalaskanya' tindakan kejahatan seseorang, ternyata juga memutuskan kebutuhan biologis seorang terpidana.

Kebutuhan biologis ini, merupakan anugerah dan fitrah yang diberikan kepada manusia. Oleh karenanya, menguaknya kasus seks didalam jeruji ini, menjadi gambaran, bahwa secara psikologis, seorang terpidana membutuhkan hal tersebut, terutama, mereka yang memiliki istri atau suami.

Adanya ruangan khusus untuk narapidana yang ingin berhubungan seks dengan suami atau istrinya, sebaiknya disediakan oleh pihak Lapas, tentu dengan beberapa ketentuan yang tegas dan tidak menyimpang, serta ada pengawasan ketat dari pemerintah pusat agar kebijakan tersebut tidak memunculkan masalah baru.

Hal ini, diperuntukan agar terpidana yang memiliki suami atau istri, dapat menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan baik dan tepat, yaitu kepada suami atau istri terpidana. Karena kebutuhan bilologis ini, mutlak dibutuhkan terpidana, tentu dalam hal ini, mereka yang memiliki suami atau istri.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki suami atau istri. Karena ditakutkan akan terjadi aksi pelacuran didalam Lapas dan terjadi transaksi administrasi terkait pemenuhan kebutuhan biologis. Maka, kebijakan tersebut, harus dijaga ketat.

Pengawasan ketat oleh petugas Lapas dan pemerintahan terkait pascakebijakan tersebut pun harus diberlakukan secara tegas dan kontinu. Pasalnya, terpidana yang dianggap 'Bos', bila tidak dapat menyalurkan hasrat biologisnya, tentu akan berimbas kepada terpidana yang lemah karena terpidana lemah, ditakutkan akan menjadi korban pemenuhan nafsu si Bos ini.  Maka, harus ada tindakan tegas terkait masalah tersebut, guna menciptakan sistem yang baik dan tegas.

Jadi, kebijakan disediakan ruangan khusus untuk berhubungan dengan suami atau istri, merupakan langkah baik dalam memenuhi kebutuhan biologis para terpidana, agar psikologis mereka tidak berubah dan fokus kepada hukuman yang mereka jalankan.

Namun, bukan berarti, kebijakan tersebut diselewengkan dengan adanya celah-celah yang dicari untuk dijadikan objek cari proyek-proyek nakal. Maka, harus ada pengawasan yang ketat dari semua pihak, terutama media massa sebagai pilar keempat dari negara sehingga masyarakat mengetahui kebijakan pemerintah, dan sekaligus turut serta mengawasi pembangungan di Indonesia


(Dimuat di rubrik Fokus Publik, Surat kabar Republika)

13 September 2011

Mereka Butuh Kasih Sayang

BERTEPATAN pada 23 Juli yang lalu, kita telah memperingati Hari Anak Nasional (HAN) yang sepertinya menjadi hari fokusnya dunia anak oleh kita semua. Meski hampir tiap tahun kita merayakan hal tersebut, namun masalah yang terjadi pada anak-anak sepertinya masih menjadi PR bagi kita semua.
Tentu kita tidak bisa membohongi kenyataan yang ada di lapangan, bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang kurang beruntung dan butuh pertolongan kita.

Namun dari PR yang begitu banyak ini, pemerintah seakan enggan menyeimbangkan kinerjanya sesuai dengan permintaan masyarakat. Terbukti dari masih banyak anak-anak yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, baik pelecehan seksual, tindak kekerasan maupun minimnya kesempatan mengenyam pendidikan.

Belum lagi kurangnya rasa aman yang dimiliki anak-anak. Tentunya ini akan berimbas kepada psikologi mereka sehingga memunculkan karakter yang keras, tidak beradab, dan semacamnya. Tentu hal itu akan menghambat bangsa dalam mencetak generasi yang beradab dan mencetak calon pemimpin.

Adanya peringatan HAN, sebetulnya adalah sebuah peringatan untuk kita semua bahwa masih banyak wajah anak-anak Indonesia yang masih butuh pertolongan 'senyuman' oleh pemerintah dan kita, selaku masyarakat.

Sepertinya HAN hanya menjadi sebuah sorotan sementara oleh pemerintah. Terlebih pemerintah lebih sibuk mengurusi masalah politik dan kebijakan-kebijakan non-anak. Sedangkan masyarakat yang peduli namun tidak memiliki modal dan keterampilan untuk berbuat sesuatu, tidak bisa berbuat banyak untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung.
    
Pepatah Belanda mengatakan, "Siapa yang mempunyai generasi muda, merekalah yang mempunyai masa depan." Oleh karena itulah kita harus serius menangani generasi muda agar bangsa ini memiliki masa depan yang gemilang.

Pada peringatan HAN, tentu banyak yang berharap bahwa HAN tidak hanya sebuah peringatan. Namun, bisa direalisasikan secara nyata dan dalam jangka waktu yang panjang agar anak-anak mendapatkan hak-hak mereka. Terutama, masalah pendidikan dan kesehatan.

Anak-anak Indonesia yang kurang beruntung atau prasejahtera, sebenarnya bila diberi kesempatan dan media yang tepat mereka memiliki talenta dan kreativitas yang hebat. Sayangnya hal tersebut sangat minim tersedia. Akhirnya jalanan menjadi tempat bagi mereka dalam menggali kreativitas dan mencari uang untuk bertahan hidup.

Berbicara masa depan, maka konsentrasi kita harus ditujukan kepada anak-anak. Merekalah yang akan menjadi penerus keberlanjutan negara ini dan menjadi tugas kita semua untuk mempersiapkan mereka dengan baik, agar negara ini bisa mencapai cita-cita seperti ditetapkan para pendiri bangsa.

Dalam era globalisasi, bila pemerintah tidak menaruh perhatian kepada anak-anak Indonesia dalam menjamin hak-hak hingga dapat mereka nikmati, maka mereka tidak akan dapat bertahan dalam globalisasi. Sehingga bangsa Indonesia ditakutkan akan mengalami krisis generasi kepemimpinan. Bila hal itu terjadi, maka kemungkinan besar bangsa Indonesia akan mengalami kemunduran dalam hal generasi.

Bila masyarakat memiliki modal dan pengetahuan, mereka bisa membangun rumah singgah bagi anak-anak ini, terlebih di dalamnya terdapat program pembelajaran untuk anak-anak tersebut.

Jika ada kerja sama dan komitmen dari kita semua dalam memberikan kasih sayang kepada mereka, tentu anak-anak Indonesia dapat mendapatkan hak-haknya. Hingga akhirnya bangsa memiliki generasi yang beradab dan berkualitas.


Angga Bratadharma
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Prof. DR.
Moestopo (Beragama)
(//rhs)
 
Dimuat di Okezone.com rubrik Suara Mahasiswa 

Jangan Beri Mereka Asap Rokok!

PERINGATAN Hari Anak Nasional (HAN) yang telah kita peringati beberapa waktu yang lalu, merupakan salah satu bentuk kepedulian kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat, terhadap anak-anak Indoesia, yang tidak lain adalah generasi penerus bangsa ini. Di pundak merekalah bangsa ini akan dipikul untuk diteruskan perjuanganya sesuai dengan keinginan bersama.

Peringatan HAN juga menjadi fokus bersama kita semua, terutama tentang hak-hak  anak Indonesia yang belum mereka dapatkan. Salah satu hak mereka adalah udara bersih dari asap rokok. Udara bersih dari asap rokok merupakan hak anak yang sering kita lupakan. Bahkan hal tersebut tidak jarang kita curi dari mereka dengan cara mengotori udara dengan asap rokok.

Merokok bagi sebagian kalangan mungkin bukanlah hal tabu lagi, terutama bagi para orangtua. Selain merokok di tempat umum, biasanya para orangtua juga merokok di dalam rumah, tanpa melihat bahwa ada anak-anak didalamnya. Padahal, tanpa disadari asap rokok tersebut dihirup oleh anak-anak mereka. Tentu ini adalah hal serius karena dapat memengaruhi kondisi kesehatan anak.

Parahnya, tidak jarang para orang tua merokok di dekat anak mereka, entah itu sedang bermain bersama di dalam suatu ruangan, atau sedang menggendong anaknya. Tentu asap rokok tersebut akan dihisap langsung dalam jumlah yang banyak

Mungkin kita tidak menyadari asap rokok dihisap oleh anak-anak dapat berakibat cukup buruk. Bukan hanya merusak paru-paru mereka tetapi juga bisa menimbulkan gangguan perilaku berupa hiperaktivitas dan gangguan konsentrasi (ADHD).

Potret di lapangan, asap rokok tidak hanya melanda anak-anak yang berada di rumah saja. Apalagi di tempat umum. Masih banyak perokok yang yang merokok di tempat umum tanpa peduli ada kehadiran anak-anak. Hal ini sangat disayangkan, pasalnya, mereka sangat rentan menjadi perokok pasif, terlebih mereka berada dalam fase pertumbuhan. Maka sepantasnya kita menyediakan udara bersih dari asap rokok untuk memaksimalkan pertumbuhan mereka sehingga tumbuh menjadi generasi yang sehat dan gemilang.

Oleh karenanya, melalui HAN, mari kita jadikan hal tersebut sebuah momentum perubahan terhadap diri kita, agar mengurangi bahkan menghentikan pemberian asap rokok kepada anak-anak Indonesia. Baik di mana pun mereka berada maupun dari mana mereka berasal. Karena dengan demikian, kita telah berpartisipasi dalam memberikan hak mereka tentang udara bersih dari asap rokok.

Angga Bratadharma
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Prof. DR.
Moestopo (Beragama)
(//rhs)
Dimuat di Okezone.com rubrik Suara Mahasiswa 

Mencetak Calon Pemimpin

BEM merupakan salah satu kegiatan kampus yang positif dalam membangun karakter mahasiswa yang pandai dalam berorganisasi, dan dalam mencetak calon pemimpin yang kritis dan idealis. Sosialisasi BEM sebaiknya diperkuat agar semua mahasiswa dapat mengetahui informasi tentang BEM secara keseluruhan. Penjelasan tentang kegiatan, tugas, dan fungsinya pun sebaiknya diinformasikan secara terus-menerus agar informasi tersebut bisa diketahui oleh semua mahasiswa karena BEM adalah kegiatan yang sangat bermanfaat dalam memberikan pengajaran berorganisasi. Selain itu, BEM juga menjadikan mahasiswa terbiasa bekerja sama dalam suatu organisasi, sesuai dengan job desknya. Hal itu sangat dibutuhkan ketika terjun didunia masyarakat dan dunia kerja. Bahkan ketika dipilih sebagai pemimpin nantinya, mahasiswa yang pernah menjadi anggota BEM, tentu bisa langsung beradaptasi dengan cepat dan baik karena pengalamanya di BEM.

Angga Bratadharma
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Prof. DR. Moestopo (beragama)

Dimuat disurat kabar Kompas Rubrik Argumentasi

30 Agustus 2011

Walau Idul Fitri berbeda tapi kita tetap satu

Kacamata dan Komputer. Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat muslim setelah 1 bulan melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan. Bahkan bermacam-macam cara orang merayakan hal tersebut, baik mudik, berekreasi ditempat hiburan maupun saling bermaaf-maafan dengan orang-orang disekitar rumah.

Namun, tahun ini, kita telah mengalami sedikit perbedaan penetapan perayaan hari raya idul fitri. Cukup disayangkan, padahal penetapan awal puasa dibulan ramadhan,  hampir serentak dilakukan umat muslim di Indonesia. Meski begitu, perbedaan yang ada tentang hari raya idul fitri, diharapkan tidak mengundang konflik atau ada rasa saling benar antara satu dengan yang lainnya. Tentu ini terkait dengan keyakinan masing-masing.

Memang tidak bsa dibohongi, perbedaan ini mengundang keresahan dan kebingungan dikalangan umat Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Oleh karenanya, perbedaan ini mari kita tanggapi dengan saling hormat-menghormati sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dan kita sandarkan pula hari raya Idul Fitri dengan keyakinan kita masing-masing, yang dalam hal ini berdasarkan dalil-dalil yang ada. Sehingga kita tidak resah dan bingung tentang perbedaan ini.

Dengan adanya hormat-menghormati sesama muslim, diharapkan tidak terjadi sebuah perbedaan yang mendalam akan sebuah keyakinan, yang nantinya bisa berakibat konflik dan jurang pemsiah yang mendalam antar sesama muslim. Tentu ini tidak diinginkan oleh kita semua, karena biar bagaimana pun, Islam adalah Islam.

Tidak ada Islam A, atau Islam B dan seterusnya. Islam adalah Islam yang dibawa Rasulullah SAW, dengan sumber hukum utamanya adalah Al-Qur`an dan AlHadits.

Kebingungan dan keresahan umat tentang perbedaan ini tentu bukan perkara kecil. Namun, mari kita bepikir positif, dan tidak saling serang antara kita. Biarkan saudara kita yang merayakan hari raya Idul Fitri merayakan dengan tenang dan damai, sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing. Yang terpenting jangan sampai merayakan Idul Fitri dengan perbuatan yang tidak baik,dan menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.

Jadi perbedaan keyakinan hari raya idul fitri mari kita tanggapi dengan hormat-menghormati dan tidak ada saling ejek mengejek satu dengan laiinya. Bila ada yang mengikuti pemerintah silahkan, bila ada yang mengikuti NU silahkan. Tidak ada pemaksaan. Yang terpenting kita tidak memecah belah antara persatuan kita.

Biar bagaimanapun perbedaan ini memiliki esensi yang sama, yaitu BerTuhankan Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul Allah.

Dengan demikian, mari kita bersatu dengan adanya perbedaan ini, karena perbedaan adalah sebuah realitas yang berbeda yang bila disatukan dengan saling pengertian akan menghasilkan kesempurnaan. Satu dengan laiinya saling mengisi untuk menyokong sebuah tujuan yang mulia.

Dengan menghormati umat muslim yang berpegang dengan keyakinan masing-masing (Tentu dalam hal ini, berdasarkan dalil-dalil yang kuat, baik itu Al-Qur`an dan AlHadits) diharapkan memunculkan sikap kebersamaan dan saling menyayangi antar umat muslim sehingga terjalin persatuan dan kesatuan diantara kita.

Oleh karenanya, mari kita bergembira menyambut hari kemenangan dengan saling memaafkan.

Minal Aidzin wal Faidzin ya, Mohon maaf lahir dan bathin untuk semua.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua dengan segala kekurangan yang kita miliki dan semoga Allah SWt mempertemukan kita kembali ke ramadhan-ramadhan berikutnya.
Amien ya Rabb
Selamat hari raya Idul Fitri 1432
(Angga Bratadharma)

29 Agustus 2011

Mudik dan perjuangan


Kacamata dan Komputer. Mudik, bagi ssebagian kalangan mungkin merupakan sebuah kewajiban. Bagi bangsa besar seperti Indonesia, mudik merupkan momentum yang baik bagi para insan untuk pulang ke kampung halaman, tentu dengan tujuan bersilahturahmi kepada sanak saudara dan orang tua, serta mempererat rasa kekeluargaan, yang mungkin selama ini telah longgar karena kurangnya komunikasi dan jarang bertemu secara tatap muka. Tentu, silahturahmi menjadi salah satu momentum dalam memperbaiki hal tersebut.
Saling memaafkan juga merupakan sebuah keindaham karena dapat menjalin kebersamaan dan kekeluargaan sesama muslim, bahkan sesama manusia.

Uniknya, bagi sebagian warga Kota Jakarta, mudik menjadi sebuah nilai wajib untuk mereka lakukan, maka tidak jarang, Kota Jakarta yang super sibuk dan macet dimana-mana, menjadi lebih lenggang dan bebas dari kemacetan bila ditinggal mudik oleh para warganya.

Tentu hal ini menjadi sebuah kenikmatan bagi mereka yang tidak mudik ke kampung halaman mereka. Karena bisa menikmati keelokan Kota Jakarta dengan santai.

Namun, kenkmatan itu tentu jauh dari mereka yang mudik ke kampung halaman masing-masing. Pasalnya, para pemudik harus berjuang keras melewati titik-titik kemacetan untuk bisa sampai ke kampung halaman mereka. Tidak jarang, para pemudik dihadapkan dengan lautan orang dan kendaraan pribadi dan kendaraan umum, baik rroda dua, roda empat, maupun lebih, yang memiliki tujuan dan arah yang sama sehingga kemacetan tidak terelakan lagi, terlebih hari-hari menjelang hari raya lebaran. Tentu butuh perjuangan keras agar bisa melewati rintangan tersebut.

Setiap orang tentu memiliki cerita masing-masing ketika pulang kampung. Pemudik yang membawa kendaraan pribadi tentu berbeda cerita dengan pemudik yang menggunakan jasa kendaraan umum. Hal ini lumrah karena rintanganya berbeda-beda.

Pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi harus bersabar dalam membawa kendaraanya, dan wajib memastikan kendaraanya aman bila harus menggunakan jasa pelabuhan untuk menyeberang antar pulau. Namun, hal itu tidak berlaku bagi para pemudik yang menggunakan kendaraan umum, mereka bisa santai turun dari kendaraan umum, dan masuk lebih cepat dari pemudik yang membawa kendaraan pribadi.

Namun, bukan berarti pemudik yang mengunakan jasa kendaraan umun bisa masuk dengan santai begitu saja. Berebut masuk antar pemudik tentu menjadi gambaran umum selama ini, satu sama lain pemudik saling berebut dan dorong-mendorong seta mendesak maju agar bisa masuk kedalam kapal.

Ironinya, terdapat anak kecil yang digendong oleh para pemudik diantara pemudik yang berdesakan masuk kedalam kapal. Pandangan tersebut tentu menyedihkan dan menyayat hati karena anak kecil yang tidak berdaya harus tergencet oleh orang dewasa.

Lain kapal, tentu lain juga dengan bus. Di terminal bus keberangkatan, cukup banyak para pemudik yang datang membawa anak kecil. Ketika bus datang diterminal keberangkatan, bisa kita lihat dari pemberitaan dimedia massa, dimana para pemudik saling berebut, meski bus belum berhenti, tidak jarang para pemudik mencegat diluar gerbang terminal keberangkatan. Ketika bus berhenti, maka aksi dorong mendorong dan berebut pun tidak terelakan, dalam hal ini, kembali anak kecil yang dibawa para pemudik menjadi salah satu korban yang tidak berdaya dari aksi gencet-menggencet.

Cukup ironi, tetapi hal itu tidak bisa dihentikan karena nilai mudik telah masuk kedalam relung jiwa sebagian besar saudara-saudara kita. Bahkan, tidak jarang, terdapat pemudik yang harus berhutang agar bisa mempunyai ongkos untuk bisa pulang kekampung halamanya..

Silahturahmi adalah salah satu kegiatan yang sangat mulia, bahkan Islam pun menganjurkan hal tersebut. Namun, bila telah dipaksakan, sepertinya harus dipikir ulang kembali. Karena pada dasarnya, pulang kampung dilakukan agar mendapat kebahagiaan karena bisa bertemu dengan keluarga yang jarang bertemu dikampung halaman.

Namun, bukan berarti hal tersebut dipaksakan karena perjalanan mudik akan lebih indah bilsa semua telah diperhitungkan tanpa dipaksakan, apalagi sampai berhutang.
.