17 Januari 2014

Mengenal Lebih Dalam Instrumen Tabungan di Perbankan


­­­­
Ilustrasi By: www.lexisnexis.com
Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu 4 tahun hingga 5 tahun belakangan ini terbilang stabil bila dibandingkan dengan negara-negara di dunia. Perekonomian  Indonesia yang semakin baik ini juga diakui oleh Lembaga Riset Internasional, McKinsey Global Institute, yang akhirnya memperkirakan Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia pada tahun 2030 mendatang.

Meski Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan perekonomian ke-7 terbesar, tetapi akses masyarakat akan industri perbankan masih kecil. Sangat disayangkan. Apalagi, hal tersebut cukup berkaitan dengan perekonomian secara umum, mengingat peranan perbankan cukup penting dalam mendukung pertumbuhan perekonomian. 

Rasio masyarakat terhadap akses perbankan juga masih rendah. Lembaga Riset Telematika Sharing Vision menyatakan hanya 32% penduduk Indonesia yang sudah memiliki rekening bank, sisanya yakni sebanyak 68% dari 246,9 juta orang penduduk Indonesia belum memiliki rekening perbankan.

Sejauh ini, masyarakat bisa dikatakan masih ditengah kebingungan akan kegunaan dan manfaat adanya institusi bernama bank. Masyarakat masih memandang bahwa bank hanya terbatas tempat menyimpan uang dan meminjam uang. Masih minim pengetahuan mengenai produk-produk mendalam di industri perbankan, bahkan diluar industri perbankan.

Secara umum, bank memiliki tugas untuk menghimpun dana masyarakat. Dari mata bank, dana yang dihimpun diistilahkan sebagai Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK sendiri terbagi dalam dua aspek, yakni pertama dana mahal, terdiri dari deposito. Kedua, dana murah, terdiri dari tabungan dan giro

Sedangkan dari mata masyarakat secara umum, dana yang disimpan di bank, diistilahkan sebagai tabungan konvensional. Masyarakat sendiri secara umum sudah mengetahui perbedaan antara tabungan konvensional dan deposito. Bahkan, tidak jarang seseorang yang memiliki tabungan konvensional di suatu bank, juga menempatkan dananya dalam bentuk deposito.

Menurut Undang-undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan /atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Adapun perbedaan antara tabungan konvensional dan deposito ialah terletak pada jangka waktu penempatan dana dan suku bunga yang ditetapkan. Tabungan konvensional, biasanya memiliki suku bunga yang lebih rendah bila dibandingkan dengan deposito. Jangka waktu tabungan konvensional juga relatif sebentar. Artinya, seseorang yang menempatkan dananya di tabungan konvensional bisa mencairkan dananya sewaktu-waktu.

Sedangkan deposito adalah produk bank yang memiliki jangka waktu panjang dan memiliki suku bunga yang terbilang tinggi bila dibandingkan dengan produk tabungan konvensional. Kendati memiliki suku bunga yang tinggi, tetapi produk deposito tidak bisa dicairkan sewaktu-waktu. Ada ketentuan waktu yang disepakati.

Menurut Undang-Undang No. 10/1998, tentang perubahan Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank

Seseorang yang menempatkan dananya di deposito, hanya bisa mencairkan dananya apabila sudah jatuh tempo. Dengan itu, seseorang mendapatkan dananya sesuai dengan suku bunga yang disepakati pada awal penempatan dananya. Bila mencairkan deposito tidak pada waktunya, maka dana yang didapat tidak mendapatkan suku bunga. Bahkan, bisa saja terkena charge.

Selain produk penyimpanan secara umum, baik itu tabungan konvensional maupun deposito, perbankan juga menyediakan suatu produk yang diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah ke atas. Tiap perbankan, biasanya memiliki nama-nama tersendiri bagi segmen nasabah dikelas menengah ke atas tersebut.

Bank BRI menyebut Nasabah BRI Prioritas, Bank BTN menyebut Nasabah Prioritas, Citibank menyebutnya Citigold, Bank Mandiri menyebutnya Mandiri Prioritas, dan semacamnya.

Karena jumlah dana yang ditempatkan masyarakat kelas menengah ke atas terbilang lebih besar dibandingkan masyarakat secara umum, maka perbankan biasanya memiliki sejumlah produk yang disesuaikan dengan segmen masyarakat tersebut, termasuk produk tabunganya yang biasa dikenal dengan tabungan premium atau tabungan prioritas.

Karakteristik tabungan premium sebenarnya hampir mirip dengan tabungan konvensional, hanya saja letak perbedaanya ada pada benefit yang diberikan perbankan dan jumlah dana yang disimpankan masyarakat. Biasanya, minimal dana yang disimpan nasabah disuatu bank sebesar Rp500 juta.

Dengan memiliki tabungan premium, maka terdapat berbagai kelebihan yang didapatkan masyarakat, yang tidak ada di tabungan konvensional. Kelebihan yang dimaksud, diantaranya adalah adanya berbagai fasilitas gratis transfer antar bank, fasilitas administrasi bulanan, suku bunga yang tinggi, dan semacamnya. Misalkan saja, Di Mandiri Prioritas, nasabah tidak hanya menerima pelayanan eksklusif dan fasilitas terbaik,  tetapi juga perhatian khusus terhadap pertumbuhan finansial nasabah.

Namun kendati dikatakan lebih 'berkelas' bila dibandingkan tabungan konvensional, tetapi masyarakat perlu menyadari kekurangan dari produk tabungan premium. Hat-hati, karena tabungan premium tidak hanya memiliki high return saja, tetapi terdapat juga high risk yang berlaku pada investasi tersebut.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan Undang-Undang (UU) tentang LPS, bank yang menjadi peserta LPS dijamin dananya sebesar Rp2 miliar. Lebih dari itu, LPS tidak menutupi.

Misalkan saja, bila ada seseorang yang mempunyai dana lebih dari Rp2 miliar dan menyimpannya disuatu bank, lalu dalam kurun waktu tertentu bank bersangkutan bangkrut, maka LPS hanya mengembalikan dana sebesar Rp2 miliar. Sisanya menunggu penjualan aset bank tersebut. Bila pada akhrinya aset tidak dapat dijual karena satu dan lain hal, maka masyarakat harus merelakan uangnya hilang.

Dalam konteks ini, masyarakat perlu berhati-hati dan mencermati dengan baik sebelum menggunakan produk tabungan premium. Tidak ada salahnya mencari tahu sebanyak mungkin informasi terkait tabungan premium, termasuk mencari tahu apakah bank yang hendak di datangi sudah menjadi peserta LPS atau belum.

Masyarakat perlu menyadari sulit untuk mendapatkan hasil investasi yang tinggi bila hanya bergantung pada instrumen tabungan premium semata. Sebab, sudah ada ambang batas dari suku bunga yang diberikan BI. Masyarakat harus sadar bahwa menabung hanya mendapatkan imbal hasil yang wajar, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Menabung juga dapat memberikan rasa aman.

Bila masyarakat tidak teliti dalam menggunakan produk tabungan premium, maka kasus yang menimpa nasabah Bank Century dapat terjadi. Sudah marak diberitakan bahwa bangkrutnya Bank Century ternyata juga 'mematikan' nasabah-nasabahnya. Sebab, Bank Century tidak mengembalikan sejumlah dana yang dimiliki nasabahnya. Ini tentu ironi, mengingat Bank Century sudah diberi bail out oleh pemerintah. Namun, kenyataanya banyak nasabah yang mengeluhkan uangnya raib ditelan bumi.

Patut diketahui bahwa tren investasi di masyarakat Indonesia masih berkutat pada produk-produk yang ditawarkan oleh perbankan, baik itu tabungan maupun deposito. Alasanya pun mudah, karena produk tabungan dan deposito relatif aman. Imbal hasil yang sudah pasti terjadi ditambah risiko kecil menjadi pilihan.

Dalam sebuah survei yang dilakukan Manulife Investor Sentiment Index (MISI) menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia lebih tertarik menyimpan dananya dalam bentuk tabungan ketimbang berinvestasi menggunakan produk diluar perbankan.

Bila berkeginan tetap memilih tabungan premium, namun perlu dititik beratkan pada suatu aturan tegas mengenai investasi. Aturan buku kuno soal investasi: tak ada investasi dengan keuntungan tinggi yang risikonya kecil. Kesemuanya menyesuaikan dengan imbal hasil dan risikonya. Bila imbal hasil tinggi, maka risikonya tinggi. Bila imbal hasil rendah, maka risikonya rendah.

Sumber dari iMoney Indonesia

20 Desember 2012

Tidak Ada Langkah Pemerintah, Fiscal Cliff Siap Guncang Indonesia

ilustrasi: joglosemar.co
 Jakarta--Isu fiscal cliff atau yang disebut dengan jurang fiskal, masih menjadi perbincangan hangat diseluruh dunia. Apalagi, kebijakan fiscal cliff ini akan berpengaruh sangat banyak, bila kebijakan pemangkasan APBN Amerika Serikat (AS) sebanyak USD600 miliar dilakukan oleh AS. Sudah barang tentu akan ada dampak tersendiri bagi perekonomian Indonesia.

Pembahasan mengenai fiscal cliff sendiri belum menemui kata sepakat antara Partai Demokrat dan Partai Republik, di AS. Namun, seiring waktu dan menjelang akhir tahun 2012 ini, kedua partai tersebut mulai menunjukkan kata sepakat, walau memang secara resmi belum dilakukan kesepakatan antara Partai Demokrat dan Partai Republik

Kata sepakat yang mulai menunjukkan batang hidungnya ini terlihat dari semakin intensifnya pertemuan antara Presiden AS Barack Obama dengan Ketua DPR dari Partai Republik, John Boehner. Meski keduanya berbeda Partai, dan mempunyai agenda tersendiri, namun kesepakatan untuk tidak mengambil kebijakan fiscal clliff seakan mulai terjadi.

Seperti yang diberitakan VoaIndonesia.com, para pemimpin Amerika perlahan-lahan mendekati kompromi mengenai mandat akhir-tahun untuk pemotongan anggaran program pemerintah dan kenaikan pajak bagi hampir semua pekerja Amerika.

Dalam hal ini Obama da Boehner sama-sama menghadapi masalah untuk meyakinkan para mitra politik masng-masing. Kendati demikian, kedua belah pihak berusaha menghindari agar tidak terjadinya pengambilan keputusan fiscal cliff

Terlebih daripada itu, bila kebijakan fiscal cliff dilakukan oleh AS, maka sejumlah ekonom di Indonesia berkeyakinan kebijakan itu dipastikan membuat AS akan mengalami resesi yang lebih parah, ketimbang resesi yang terjadi sebelumnya. Sudah barang tentu resesi yang terjadi di AS akan berpengaruh terhadap dunia. Terlebih, ekonomi AS menggerakan 20% ekonomi dunia

Pengaruhnya sendiri, bila fiscal cliff terjadi adalah melambatnya perekonomian dunia, dan berimbas kepada perekonomian di Asia, dan juga berimbas kepada Indonesia, yang termasuk kedalam negara di Asia. Dampaknya sendiri akan terasa dari kinerja ekspor negara China, yang merupakan eksportir terbesar bagi AS. Bila ekspor China mengalami perlambatan akibat fiscal cliff di AS, maka sudah barang tentu akan ada dampak kepada Indonesia, dimana China merupakan negara ekspor terbesar bagi Indonesia

Kendati demikian, banyak pengamat justru menyebut bahwa perekonomian China di tahun depan akan bertumbuh, meski terjadi sedikit perlambatan akibat krisis dunia yang diperkirakan banyak pengamat akan terus tejadi di tahun depan.

Namun, China sendiri sudah mulai mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis, yang membuat China semakin mempunyai ketahanan dalam menghadapi krisis yang berkepanjangan ini. langkah yang ditempuh China sendiri adalah meningkatkan belanja infrastruktur di daerah-daerah, yang diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat China, sehingga China mempunyai daya tahan lebih manakala AS mengambil kebijakan pemangkasan anggaran atau fiscal cliff

Lebih daripada itu, perekonomian China sendiri sudah mengalami perbaikan, menjelang akhir tahun ini. Indikator seperti ekspor juga mengalami perbaikan. Pada bulan September 2012 ini, misalnya, ekspor China bertumbuh 9,9%, lebih tinggi dari perkiraan banyak pengamat yang mematok pertumbuhan ekspor China diangka 5%. Bahkan, impor China yang selama tiga bulan berturut-turut di tahun 2012 ini mengalami penurunan, kini pada posisi September 2012 mulai menunjukkan perbaikan, dan meningkat 2,4%.

Tentu hal ini merupakan berita baik ditengah krisis ekonomi global yang masih tidak menentu, dan menghantui semua negara yang ada didunia. Apalagi, perekonomian China sendiri menjadi kepentingan bagi seluruh dunia, dengan dukungan total penduduk sebanyak 1,3 miliar dan PDB pada peringkat kedua setelah AS

Bagi Indonesia sendiri, isu fiscal cliff menjadi hangat diperbincangkan dikalangan ekonom dan pengambil kebijakan di Indonesia. Apalagi, fiscal cliff berdampak domino dan akan sampai juga kepada Indonesia. Hal tersebut mau tidak mau akan membuat ekonomi Indonesia sedikit melambat. Sebab, ekspor Indonesia akan terganggu, sementara impor terus mengalami peningkatan. Hal ini yang membuat Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2012 masih tercatat defisit sebesar US$ 176,6 juta. Angka ini menurun jika dibandingkan bulan Juni yang mencapai US$ 1,32 miliar.

Bila fiscal cliff diambil, maka perekonomian Indonesia bisa saja bertumbuh di bawah 5%, lebih rendah dari prediksi pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,8% di tahun 2013. Bahkan, kinerja ekspor akan semakin melemah, seiring Indonesia tidak mencari alternatif negara lain sebagai tujuan ekspor Indonesia, selain China

Sementara ekspor mengalami pelemahan, impor diprediksi akan terus mengalami peningkatan, dan terjadi ketimpngan besar antara ekspor dengan impor. Apalagi, pemerintah Indonesia masih membiarkan investasi yang masuk ke Indonesia berorientasi kepada pasar domestik, dan tidak diarahkan kepada investasi yang berorentiasi kepada ekspor Indonesia

Bila hal ini terjadi, maka bukan tidak mungkin pasar domestk Indonesia yang besar akan kebanjiran barang-barang impor, sementara ekspor mengalami pelemahan terus menerus. Bila tidak diantisipasi, maka bisa saja ekonomi Indonesia benar-benar mengalami perlambatan dari sisi eksternal dan internal.

Sisi eksternal Indonesia ialah tidak bisa menjaga kinerja ekspor akibat pelemahan perekonomian dunia, dan sisi internal adalah Indonesia tdak bisa menjaga pasar dalam negeri menjadi tuan rumah dinegeri sendiri. Karenanya, pembenahan dengan mencari negara lain sebagai tujuan ekspor Indonesia menjadi penting, dengan tidak luput menjaga investasi yang masuk untuk mendukung kinerja ekspor Indonesia

Lebih daripada itu, pembenahan infrastruktur menjadi penting agar Indonesia benar-benar mempunyai daya tahan yang tinggi.Sebab, bila fiscal cliff benar-benar dilakukan oleh AS, maka resesi dunia dipastikan terjadi. Bila Indonesia tidak menyiapkan segala sesuatunya manakala krisis menerobos masuk dan mengguncang keras Indonesia, maka Indonesia bisa saja mengalami krisis parah, terutama dari sisi stabilitas keuangan, yang dampaknya kepada krisis ekonomi di Indonesia

24 Juni 2012

Manfaat Susu Dalam Peningkatan Kualtias SDM di Indonesia

Jakarta - Istilah susu mungkin sudah sering kita dengar. Bahkan, beberapa diantara kita menjadikan susu sebagai salah satu asupan penting dalam satu hari dalam beraktivitas. Namun, banyak juga masyarakat yang tidak asing akan susu tapi asing dalam mengkonsumsinya.

Kesadaran masyarakat akan konsumsi susu terbilang kecil di masyarakat kita, terlebih di daerah terpencil di Indonesia. Tidak jarang masyarakat di perkotaan juga masih tidak mengkonsumsi susu.

Sebenarnya kesadaran masyarakat kita akan konsumsi susu disebabkan beberapa hal, yang menjadikan susu tidak asing ditelinga masyarakat, tapi asing saat dikonsumsi.

Pertama, susu sudah dihilangkan nilai pentingya di masyarakat. Sehingga peranan susu digantikan minuman multivitamin lain

Kedua, sosialisasi kepada masyarakat mengenai peranan susu dalam diri manusia masih minim dan belum menyeluruh.

Ketiga, masyarakat kita masih sulit membeli susu dan menkonsumsi susu tersebut, terlebih banyak masyarakat kita justru mengganti susu formula untuk anak-anak mereka dengan air bekas cuci beras. Hal ini disebabkan mahalnya susu bagi anak-anak mereka saaat selesai memberikan Air Susu Ibu (ASI).

Faktor-faktor demikian menjadikan susu di Indonesia masih belum merata, baik dikonsumsi maupun mahalnya susu untuk dikonsumsi.

Karena itu, perlu ada inovasi dalam bersosialisasi dan juga kebijakan mengenai susu untuk dikonsumsi masyarakat. Soalnya, dengan adanya kebijakan dan sosialisasi yang baik, akan menopang kesadaran masyarakat akan pentingnya susu bagi kesehatan tubuh dan pertumbuhan anak.

Mahalnya harga susu didaerah terpencil, terutama bagi anak-anak dalam fase pertumbuhan juga menjadikan kebijakan pemerintah dalam pemerataan kesejahteraan masyarakat diseluruh Indonesia menjadi terbatas. Alasanya, kebijakan tersebut tidak diimbangi dengan kebijakan harga dan kemudahan masyarakat daerah terpinggirkan untuk memberikan susu bagi anak-anak mereka.

Susu inovasi yang sehat dan halal untuk pertumbuhan anak perlu digalakan mulai dari sekarang. Perlu ada dukungan penuh antara pemerintah, dan masyarakat dalam mensukseskan gerakan tersebut. Karena, keduanya bisa bekerjasama dalam kesejahteraan masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi susu yang sehat bagi pertumbuhan anak.

Misalkan saja, pemerintah memberikan suntikan baik modal maupun Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni kepada koperasi-koperasi yang ada di daerah-daerah terpinggirkan, bila tidak ada  maka pemerintah bisa membangun koperasi tersebut.

Koperasi yang dimaksudkan bisa diarahkan kepada program pemberian susu yang sehat dan halal untuk pertumbuhan anak kepada masyarakat Indonesia yang berada didaerah-daerah terpencil. Bila perlu, industri lembaga keuangan, terutama perbankan, didorong agar ikut serta dalam mensukseskan program tersebut. Soalnya, perbankan memiliki likuiditas cukup dalam menyuntikan dana dalam upaya mensuseskan pemberian susu inovasi yang sehat dan halal untuk pertumbuhan anak.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terbilang tinggi pada tahun 2011 lalu, yakni 6,5%, sebenarnya yang berperan dalam hal itu adalah SDM-SDM yang baik yang tersedia di Indonesia. SDM-SDM tersebutlah yang berjuang keras agar masyarakat Indonesia bisa mendapatkan kesejahteraan dari pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5%. Bahkan, para pengamat ekonomi memperkirakan ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh di atas angka 6% pada tahun 2012, lebih tinggi bila dibandingkan dengan ekonomi di negara maju.

Dalam hal ini akan diperlukan SDM-SDM yang mumpuni dalam menggerakan roda perekonomian Indonesia pada waktu mendatang. Untuk itu, diperlukan pemberian gizi yang berkualitas sedari dini kepada anak-anak yang berada pada fase pertumbuhan.

Salah satu yang bisa diupayakan adalah pemberian susu. Seperti diketahui, susu memiliki sejumlah manfaat yang mendatangkan suatu kesehatan dan pembentukan sel-sel yang berkualitas untuk membentuk fase pendewasaan seseorang. Susu tersebut secara tidak langsung akan memberikan manfaat bagi seseorang dalam masa mendatang, terutama dalam pola pikir dan fase berpikir.

Isu yang menghancurkan kesehatan mengenai susu formalin beberapa waktu lalu sayangnya mengahncurkan kembali upaya masyarakat dalam menciptakan kesadaran dalam mengkonsumsi susu. Masyarakat, pun kembali kehilangan kepercayaan mengenai susu-susu yang mereka konsumsi. Tapi, untunglah sekarang isu tersebut bisa ditangkis oleh pemerintah.

Namun, hal itu tidaklah cukup. Perlu ada upaya preventif dan masif oleh pemerintah dalam upaya melindungi masyarakat akan susu formalin dan membahayakan masyarakat, terutama anak-anak yang berada pada fase pertumbuhan.

Hal itu bisa dengan memberlakukan regulasi yang menciptakan susu yang berkualitas dan berinovasi sehat dan halal untuk pertumbuhan anak, maupun menciptakan konsep atau program meminum susu untuk kesehatan Indonesia. Sehingga, tercipta suatu kesadaran akan pentingnya susu dalam kehiduapan sehari-hari.

Apalagi, masyarakat daerah terpencil juga bisa merasakan susu yang berkualitas tinggi, tapi didapatkan dengan harga murah. Dengan demikian, Indonesia akan memiliki generasi-generasi yang berkualitas tinggi dalam intelektual dan segalanya. Sehingga Indonesia pada waktu ke depan memiliki generasi pemimpin yang bisa membawa Indonesia kepada peradaban yang lebih baik lagi






17 Juni 2012

Papua Tidak Seperti di Media Massa

Jakarta - Timbulnya kembali masalah kekerasan di tanah Papua sepertinya tidak asing lagi ditelinga masyarakat, baik di Indonesia maupun dunia internasional. Kekerasan seakan menjadi bagian hidup masyarakat Papua yang tersandera kepentingan golongan, baik lokal maupun asing.

Kasus tertembaknya Wakil Ketua Nasional Papua Barat Mako Tabuni sontak menggoncangkan kembali bumi Papua yang tidak pernah tenang mengenai pemberitaan kekerasan. Ini menjadi pro kontra dikalangan masyarakat itu sendiri, baik masyarakat yang kritis terhadap kondisi Papua maupun masyarakat awam. Alasanya, Papua selalu terjadi kekerasan seakan tidak ada hentinya. Hingga akhirnya paradigma masyarakat menyentuh pemikiran terdapat kepentingan yang terjadi disana, dengan mengambil kesempatan dari kondisi Papua sekarang ini.

Mengapa tidak. Ini dapat dilihat dari logika umum masyarakat kita. Tentu masyarakat secara awam akan mengatakan apa fungsi dan tugas pemerintah daerah Papua, dan apa respon pemerintah pusat menanggapi masalah yang terus saja terjadi di Papua. Pun ini menjadi perdebatan yang memakan waktu. Padahal, waktu perdebatan dan pro kontra yang ada untuk tiap detiknya telah memakan korban bergelimpangan di tanah Papua.

Mari kita simpangkan sebentar fokus kepada kepentingan kesempatan dari kondisi Papua sekarang ini. Kita mengarah kepada kondisi Papua yang masyarakatnya mudah terpicu karena masalah rusaknya distribusi kesejahteraan masyarakat Papua

Secara psikologi, orang secara pribadi memiliki kebutuhan hakikat dalam dirinya, yang menjadikan kebutuhan tersebut harus dipenuhi. Bila tidak, berdampak kepada gejolak emosi dalam diri untuk menggapainya. Sebut saja beberapa diantaranya adalah makanan, minuman, tempat tinggal, dan rasa aman.

Makanan menjadi masalah utama bagi masyarakat Papua. Soalnya, Papua yang tanahnya bergelimpangan emas dimana-mana, ternyata kondisi masyarakatnya adalah miskin tanpa harta benda disekelilingnya. Bahkan, listrik pun bisa dikatakan minim bila dibandingkan dengan kondisi masyarakat yang ada diluar Papua, salah satunya di Jakarta.

Sebagai contoh, manusia akan melakukan apa saja ketika dirinya kelaparan. Bahkan, manusia itu bisa menjadi srigala diantara srigala lainnya. Karenanya, pemerintah pusat harus bisa mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan kekayaan alam Papua sedemikian rupa, sehingga Papua bisa menghasilkan suatu hasil yang bisa digunakan Masyarakat Papua mendapatkan makanan dan kebutuhan pokoknya.

Bila pemerintah daerah tetap membangkang dan tidak memberikan kinerja optimal, maka sewajarnya pemerintah pusat memberikan tindakan tegas, bisa mengurangi jatah APBN untuk Papua, atau mengganti orang nomor 1 di Papua itu dengan orang Papua lain yang bisa menyelesaikan masalah di Papua.

Lainitu, perekonomian Indonesia yang tahun 2011 kemarin mencapai 6,5%, seharusnya bisa menjadi indikator berkurangnya kesenjangan sosial akibat status ekonomi dan perekonomian seseorang. Bahkan, perekonomian Indonesia yang tinggi harusnya bisa berhubungan erat dengan penurunan tingkat kemiskinan Indonesia.

Pun demikian, masalah kemiskinan di Indonesia tetap menjadi masalah klasik yang hingga sekarang hanya menjadi retorika para pemangku kepentingan ketika melakukan pemilihan umum saja. Hanya terjadi hubungan kecil antara pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,5% dengan penurunan tingkat kemiskinan.

Kalau saja pemerintah pusat dan daerah saling berkoordinasi dalam mengentaskan kemiskinan dan kesejahteraan diterapkan secara masif, terutama di papua, tentu gesekan keras di Papua bisa diminimalisir. Sayangnya, desentralisasi justru menghambat pemerintah pusat masuk ke daerah-daerah karena dipagari otonomi daerah.

Sebagai contoh, pemerintah pusat bisa mendorong para pelaku industri untuk membuka kantor cabang di Papua, sehingga membuka lapangan kerja bagi masyarakat Papua. Atau, bisa juga dengan mendorong industri perbankan membuka kantor cabang di Papua, sehingga mayarakat Papua bisa mengakses pendanaan yang bisa digunakan untuk meningkatkan ekonominya secara masif. Tentu pada akhirnya membuka secara luas lapangan kerja dan penurunan kekerasan.

Namun, masalah kekerasan yanng sering dihadirkan di media massa di Indonesia, baik di media cetak, elektronik, radio maupun televisi, juga seharusnya mengabarkan suatu pemberitaan yang cover both side. Soalnya, banyak dari media massa justru menyoroti pemberitaan di Papua secara berlebihan, sehingga paradigma masyarakat di setir oleh agenda seting media massa tersebut.

Sebagai contoh, penulis pernah bertemu dengan salah satu Direktur Bank yang berasal dari Papua. Dirinya mengatakan bahwa masalah kekerasan di Papua tidak seheboh yang diberitakan oleh media massa pada umumnya. Sebenarnya, kekerasan yang terjadi tidak jauh dari tindak kekerasan yang terjadi di Kota Jakarta.

Memang masalah di Papua cukup mengkahawatirkan. Tapi, menurut orang Papua itu sendiri, masalah di Papua adalah masalah kekerasan pada umumnya terjadi didaerah-daerah pada umumnya, seperti kasus perampokan yang terjadi di Kota Jakarta. Hanya saja, media massa membalut dengan sedemikian rupa sehingga Papua seakan daerah yang rawan konflik dan mengerikan. Ini seharusnya mulai dipikirkan oleh para awak media, agar memberitakan suatu pemberitaan dengan melihat dampak dari pemberitaanya tersebut.

Dan terahkir, pemerintah pusat diharapkan tidak hanya befokus kepada pertumbuhan pada kota-kota besar di Indonesia. Sudah saatnya pemerintah membuka mata dan tidak tidur dalam menjalankan roda kepemerintahan pada waktu mendatang. Saatnya pemerintah bertindak tegas kepada pemerataan kesejahteraan dan pembangunan perekonomian didaerah-daerah tertinggal, terutama Papua. Soalnya, Papua memiliki sumber daya alam yang berlimpah ruah, tapi tidak digunakan dan justru didiamkan, parahnya pemerintah hanya berdiam manakala kekayaan Papua direnggut oleh asing.

Dengan ada konsep dan implementasi berbasis nasionalis tersebut, maka masalah di Papua memang benar-benar terselesaikan dengan baik, yakni memang ada koordinasi antara pemerintah dan pusat mengenai kesejahteraan di Papua, adanya sangkut paut antara pertumbuhan perekonomian Indonesia sebesar 6,5% dengan penurunan tingkat kemiskinan, dan adanya pemberitaan dari media massa yang berimbang dengan melihat dampak pemberitaan yang ada.

19 Maret 2012

Karya Ilmiah Sebagai Perubahan Generasi

KULIAH merupakan medium para mahasiswa menempa diri dalam pencarian ilmu. Nantinya, ilmu tersebut dipergunakan untuk mengubah birokrasi dan sistem serta mekanisme kenegaraan untuk menyejahterakan masyarakat di segala bidang.

Bisa dibilang, dunia pendidikan di negara kita masih memiliki ruang hitam. Terlihat dari banyaknya masalah yang mengiringi perjalanan pendidikan kita, baik kekerasan, senioritas, maupun penyimpangan dana pendidikan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Tak ayal lagi, dibutuhkan suatu tonggak perubahan dalam membenahi hal tersebut. Dalam hal ini, kata reformasi bisa mewakili pembenahan yang diperlukan dalam pendidikan Tanah Air, mengingat selama ini pemerintah telah lalai mengawasi dan meluruskan pencapaian tujuan pendidikan bangsa ini.

Penulisan dan pemublikasian karya ilmiah tentu memiliki posisi strategis sekaligus menimbulkan polemik di tengah masyarakat dan para akademisi, terutama bagi mahasiswa itu sendiri. Pasalnya, karya tersebut akan berada pada posisi yang menguntungkan dan tidak pula menguntungkan. Mengapa?

Bila dilihat dari sisi keuntungan, karya ilmiah merupakan sarana pendakian penelitian dan pengetahuan yang mampu memperbaiki seorang mahasiswa dalam mencapai tujuan yang selama ini dikehendaki. Tidak hanya gelar, namun juga keilmuan yang disesuaikan dengan gelar tersebut. Keberadaan sistem tersebut akan meningkatkan intelektualitas dan paradigma berpikir mahasiswa tentang arti dan makna pendidikan di perguruan tinggi. Kebijakan ini dapat menghasilkan generasi dan pondasi paradigma berpikir bangsa kita.

Di sisi tidak menguntungkan, ketidaksiapan mahasiswa yang selama ini terbentuk dari kebiasaan menghafal suatu pelajaran. Dampaknya adalah kebuntuan kreativitas belajar.

Kendati demikian, proses pelaksanaan kewajiban ini pun harus melalui pengkajian dan pengawasan super ketat. Dengan begitu, tidak ada oknum, baik mahasiswa maupun pelaku akademisi nakal, yang melakukan kecurangan dalam menghasilkan dan mempublikasikan karya ilmiah.

Memang tidak bisa dimungkiri, dewasa kini, banyak mahasiswa yang hanya belajar di ruang kuliah. Akibatnya, referensi pemikiran ilimiah jarang ditemui. Kalaupun ada, pemikiran mahasiswa pun terpatok pada sisi ilmiah, tanpa menyentuh ranah sosial dan lingkungan sekitar. Karenanya, perlu adanya keseimbangan pemikiran antara sisi sosial dan ilmiah.

Penulisan karya ilmiah sejatinya dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas berpikir dan keterampilan mahasiswa-mahasiswi dalam bersiap memasuki dunia kerja. Bila tidak, maka kualitas pendidikan kita tidak akan pernah naik kelas. Jika ini terjadi, dari sektor mana lagi bangsa ini memperbaiki generasi pemimpin yang membawa kesejahteraan berbalut intelektual antara sosial dan ilmiah?

Angga Bratadharma

Alumni Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) Ilmu Komunikasi Jurusan Jurnalistik 
Wartawan Ekonomi (//rfa)
 
Di muat di Media Okezone.com
Jumat 9 Maret 2012 

10 November 2011

Sumpah Pemuda di Bayar Jiwa Raga

Sumpah Pemuda merupakan sumpah yang dilakukan oleh para kaum muda kita pada masa penjajahan. Kala itu, para kaum muda menyatakan bertanah air, berbahasa dan berbangsa satu, yaitu Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda pun bermakna kaum muda melepas segala atribut perbedaan dan bersatu untuk menggapai kemerdekaan Indonesia. Semangat persatuan yang dimiliki kaum muda kala itu akhirnya menghantarkan Indonesia kepada kemerdekaan yang harus dibayar tinggi, dengan jiwa dan raga.

Namun, yang terjadi sekarang ini justru kebalikan dari para pahlawan muda kita pada masa penjajahan. Banyak dari kaum muda sekarang ini lebih membicarakan perbedaan sehingga berdampak kepada gesekan sosial didalam masyarakat.

Selain itu, pergaulan yang telah melepas norma-norma mulia pun membuat kaum muda sekarang ini lebih melepas identitas diri sebagai kaum muda Indonesia. Akhirnya kaum muda yang diharap mampu menggantikan para pemimpin yang akan turun tahta nantinya,  hanya menjadi momok yang masih belum bisa terselesaikan dengan baik pembentukan karakter kepemimpinan.

Potret dilapangan, masih banyak permasalahan yang terjadi pada kaum muda kita, baik dari pergaulan bebas, penggunaan obat-obatan terlarang, free sex, maupun bebal moral. Ini mengindikasikan bahwa kaum muda kita telah lupa perjuangan yang dilakukan para pahlawan muda kita selama ini, terlebih mereka tidak mampu memaknai arti perjuangan.

Mahasiswa yang merupakan salah satu elemen terpenting didalam dinamika kehidupan pun terkadang dianggap tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, baik didalam instansi pendidikan maupun didalam masyarakat. Sebut saja  mahasiswa yang senang melakukan aksi unjuk rasa.

Aksi unjuk rasa memang tidak selamanya salah dan tidak selamanya benar. Tetapi, yang digarisbawahi saat ini adalah efektivitas dan efisiensi dalam pembenahan permasalahan yang masuk kedalam multidimensi ini. Maka sewajarnya, penyelesaian yang dilakukan sebatas kepada kapasitas yang dimiliki mahasiswa dengan tugas yang melekat kepada dirinya.

Disayangkan bila aksi unjuk rasa yang dilakukan distandarkan sebagai aksi penyelesaian. Jika itu menjadi standar, maka mahasiswa yang notabenya mahluk intelektual, tidak akan ada artinya karena lebih berpikir pragmatis dengan berbasis tanpa pikir panjang,

Belum lagi masalah perbedaan yang dimiliki para kaum muda kita, yang justru hanya menjadi saling serang untuk memenangkan gaya hidup yang ada sekarang ini. Banyak dari kaum muda kita yang terjebak dengan gaya hidup, yang akhirnya dijajah dengan gaya hidup yang tidak relevan dengan kebutuhan hidup.

Hasilnya, konsumerisme merebak hingga kepada kaum muda kita. Padahal, masa perjuangan kaum muda kita pada tahun 1928, ketika kaum muda mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda, tidak mengarahkan perjuangan dengan terjajah oleh barang-barang mahal yang tidak relevan dengan kebutuhanya. Pahlawan pemuda kala itu justru berperang dengan kapasitas yang mereka miliki.

Ironinya, kaum muda sekarang berperang dengan sesama untuk bisa masuk kedalam gaya hidup mewah yang keluar dari batas norma yang ada. Akhirnya, perbedaan menjadi pakaian kaum muda untuk saling menonjol dari yang lainnya.

Hal ini sangan berbeda ketika kaum muda kita berjuang dengan jiwa dan raga mereka. Mereka berjuang dengan kapasitas yang dimiliki dan semaksimal yang bisa dilakukan. Dan, itu hanya untuk memerdekakan Indonesia, dan juga agar anak cucu mereka bisa menikmati kemerdekaan yang mungkin belum mereka rasakan kala itu.

Oleh karenanya, momentum Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Okteober, kita usahakan menjadi perenungan diri. Bahwa, jiwa dan raga yang telah tiada sekarang ini, demi membela tanah airnya Indonesia,  hanya bertujuan memerdekakan bangsa ini dari para penjajah.

Sudahkah kita berbenah dan memandang sebuah permasalahan dengan baik dan perjuangan maksimal. Maka, perjuangan 28 Oktober 1928 kala itu, merupakan salah satu momentum sejarah yang mampu menggerakan kaum muda untuk bahu-membahu membangun Indonesia sekarang ini. Dengan begitu kita mengetahui apa arti pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan muda kita.

Mungkin kita tidak bisa seperti para pahlawan muda kita, tapi minimal kita bisa meneruskan sedikit perjuangan mereka, untuk jiwa dan raga yang dikorbankan untuk memerdekakan bangsa ini. Mari kita lepas atribut perbedaan ini dan bersatu untuk selalu bersama dalam memperjuangkan persatuan dan kesatuan, demi kemerdekaan hakiki yang diinginkan oleh kita semua.

08 November 2011

Lahirnya Internet

Dijaman sekarang ini, teknologi telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, salah satunya adalah lahirnya internet.

Internet telah menciptakan istilah global village, istilah yang menggambarkan bahwa informasi bisa didapatkan tanpa mengenal istilah jarak dan waktu. Yang mana peristiwa yang terjadi disuatu tempat bisa diketahui oleh orang-orang yang berada jauh dari tempat peristiwa itu terjadi.

Internet juga berfungsi sebagai tempat orang-orang bertemu didunia maya, entah menggunakan jejaring sosial facebook, twitter, dan semacamnya.

Tidak hanya itu, internet juga merupakan salah satu media yang cukup cepat dan mudah dalam mengakses informasi yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga banyak masyarakat yang merasa untung dengan adanya kemajuan teknologi ini.

Selain itu, internet juga bisa dijadikan masyarakat sebagai tempat berbagi, baik informasi, berita, peristiwa, jual-beli, dan semacamnya. Dengan begitu, pangsa pasar menjadi lebih luas dibandingkan sebelum ada internet.

Namun, dewasa kini, internet telah menjadi masalah yang cukup pelik. Karena penggunaan internet tidak selamanya baik. salah satunya adalah dalam hal memberikan informasi kepada pengguna internet. (Memberikan informasi menjadi fokus dalam tulisan ini).

Cukup banyak forum-forum yang berdiri di situs-situs sekarang ini, dan jumlahnya pun puluhan, atau ratusan, bahkan lebih. Forum tersebut sering dijadikan pengguna internet untuk berbagi informasi kepada penguna internet lainnya. Hal ini lumrah karena salah satu fungsinya adalah berbagi informasi.

Tetapi, yang menjadi masalah adalah ketika pengguna internet menyadur informasi yang tidak layak dan tidak baik di internet. Terlebih internet merupakan media yang dapat diakses oleh setiap orang. Ini penting disadari oleh para pengguna internet karena tidak semua pengguna intenet dapat mengkritisi dan bijak dalam melihat informasi-informasi yang tidak layak, yang diinformasikan kepada pengguna internet.

Informasi yang tidak baik bisa berupa, gambar-gambar kekerasan, gambar pembunuhan, gambar sadis, gambar-gambar porno, video mesum, video kekerasan, video sadis, video yang tidak layak dipublikasikan, video yang sarat akan RAS, dan semacamnya.

Tentu harus disadari, banyak hal tersebut yang beredar diinternet. Akibatnya, banyak dari kita merasa ngeri dan takut ketika melihat informasi tersebut. Lalu bayangkan bila ada pengguna internet yang masih dibawah umur melihat hal tersebut. Tentu ini menjadi catatan bagi kita agar bisa lebih kritis dan lebih baik lagi dalam memberikan informasi diinternet.

Memberikan informasi diinternet sebaiknya tidak memberikan informasi yang mentah dan tanggung karena akan berdampak kebingungan dan "loncat-loncat" dalam pemahaman sebuah informasi. Oleh karenanya jangan memberikan informasi bila informasi tersebut justru menimbulkan sebuah kebingungan dan kengerian.

Bila perlu, mari kita berbagi informasi yang mendidik dan dapat memajukan kakarkter saudara-saudara kita ke arah yang lebih baik lagi. Yaitu dengan memberikan informasi yang baik dan tidak mengundang provokasi, serta memberikan informasi yang lengkap dan indah, agar bangsa kita menjadi bangsa yang beradab dan terdidik.

Peringatan Untuk Bersatu

Menjelang 28 Oktober 2011, banyak dari kita semua melakukan berbagai kegiatan yang bertema 'Pemuda'. Ya, tanggal 28 Oktober adalah hari peringatan Sumpah Pemuda. Hari dimana para pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928, mengikrarkan kalimat yang mampu mempersatukan dan bersatunya kaum muda untuk memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah. Dan kemerdekaan Indonesia dibayar dengan sangat mahal, yaitu jiwa dan raga para pahlwan kita. Kunci dari kemerdekaan kita adalah bersatu.

Keanekaragaman yang dimiliki bangsa kita menjadikan kita berbeda satu sama lainya. Indonesia pun terkenal dengan Bhineka Tunggal Ika, berbeda tapi kita satu. Namun, meski kita berbeda, kita mampu menang melawan para penjajah kala itu karena kita bersatu padu mengusir penjajah dari tanah air Indonesia. Bahkan dengan persenjataan yang kalah hebat dengan yang dimiliki penjajah, kita tetap mampu merebut kemerdekaan Indonesia.

Dari Sabang hingga Merauke, seruan bersatu untuk memerdekakan Indonesia pun bergemuruh. Setiap orang, baik yang tua hingga muda keluar dan berjuang melawan para penjajah. Alhasil, Indonesia mampu merdeka dengan berbasis persatuan.

Keanekaragaman yang dimiliki Indoneisa sebenarnya berpotensi baik dan mengarah kepada pembangunan yang dapat menyejahterakan semua lapisan di Indonesia. Ini terbukti dari merdekanya bangsa kita dengan semangat persatuan dan kesatuan.

Namun, dewasa kini, rasa persatuan dan kesatuan yang dimiliki bangsa kita kian memudar. Anak muda, yang salah satu elemen yang ada di Indonesia pun kian melupakan rasa persatuan dan kesatuan. Padahal, persatuan dan kesatuan mampu mengantarkan kita kepada tujuan yang menjadi keinginan bersama. Salah satunya adalah kemerdekaan.

Persatuan dan kesatuam adalah modal besar yang mampu mengkokohkan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dimata bangsa lain. Sewajarnya kita tetap mengidentitaskan diri bangsa kita sebagai bangsa yang berbasis persatuan dan kesatuan karena dengan begitu, maka setiap tujuan yang hendak digapai bukan lagi sebuah mimpi tetapi akan menjadi sebuah kenyataan.

Diibaratkan, sebuah lidi akan mudah dipatahkan, namun tidak deimikian dengan lidi banyak yang berkumpul. Maka, seyogyanya persatuan dan kesatuan tetap ada didiri kita sekarang ini, sebagai salah satu cara meneruskan perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan muda kita.

Namun, potret dilapangan sekarang ini, persatuan tidak lagi dikedepankan dan dominan. Perbedaan lebih dominan dan menjadi isu hangat yang mampu membuat konflik didalam masyarakat. Persatuan yang semakin tergerus karena banyak hal kini tidak mampu membendung permasalhan yang semakin krusial. Baik tentang agama, sosial, maupun ekonomi.

Kepentingan golongan pun membuat suasana era sekarang semakin memanas. Terlebih, penggerusan uang negara yang masuk kekantong pribadi membuat bangsa ini dihadapkan dengan permasalahan yang multidimensi dan multitafsir. Alhasil, perbedaan yang ditonjolkan sebagai atribut individu masing-masing semakin meruncingkan permasalahan yang ada.

Tidak lain, ini karena perbedaan lebih ditonjolkan untuk kemenangan ego masing-masing. Padahal, kepentingan masing-masing tersebut akan memancing gesekan kuat didalam masyarakat dan berakibat kepada konflik frontal yang sistematis dan prosedural.

Tetapi, yang menjadi korban dalam hal ini adalah rakyat yang tidak mengerti apa-apa, dalam hal ini rakyat berharap akan ada perubahan nyata dan sgnificant terkait kesejahteraan yang rakyat inginkan. Namun, kepentingan yang semakin raksasa dan liar telah membuat rakyat hanya menjadi komoditas kepentingan berbasis perbedaan.

Padahal, bila semua lapisan masyarakat dari mulai masyarakat bawah hingga presiden mampu merealisasikan persatuan dan kesatuan dinegeri ini, niscaya berat sama dipikul ringan sama dijinjing akan ada di Indonesia.

Oleh karenanya, peringatan 28 Oktober yang kita peringati sebagai hari Sumpah Pemuda, mari kita jadikan momentum baik untuk merenungkan dan merealisasikan persatuan dan kesatuan, demi mewujudkan perjuangan kemerdekaan yang hingga sekarang terbelenggu dengan penjajahan yang berbasis kepada pemikiran.

06 November 2011

Mungkin ini Prinsip Ekonomi Kita

Naiknya harga kebutuhan bahan pokok menjelang puasa, ketika puasa dan menjelang hari raya lebaran sepertinya sudah bukan hal baru lagi bagi masyarakat kita. Hampir semua harga-harga melonjak, belum lagi bahan makanan, seperti cabai, bawang, telur daging, dan lain-lain. Tentu ini berakibat kerugian bagi masyarakat. Pasalnya sebelum puasa, harga tetap normal dan tidak ada kenaikan berarti. Akhirnya, banyak masyarakat yang kesulitan dalam membeli bahan pokok.

Kenaikan harga-harga disinyalir karena tersendatnya pasokan bahan-bahan pokok dari penyalur kepada penjual sehingga bahan-bahan pokok langka dan berakibat harga tersebut naik. Ini sama dengan prinsip ekonomi, yaitu bila barang sedikit dan peminat banyak maka harga akan tinggi, sebaliknya bila barang banyak dan peminat sedikit maka harga akan rendah, dan hal itu terjadi dinegeri kita. Sayangnya, hal tersebut terjadi ketika menjelang dan dihari-hari besar, seharusnya hal  demikian  dipermudah dan dipermurah untuk kelancaran aktivitas dan kekhusyuan hari-hari besar itu.

Kenaikan harga-harga akibat tersendatnya pasokan bahan-bahan pokok juga tidak diketahui asal-usulnya, para pedagang pun sebenarnya tidak menginginkan kenaikan harga karena berdampak penurunan omset penjualan mereka karena banyak pembeli yang ikut berpuasa berbelanja seblum puasa sebenarnya dibulan Ramadhan.

Akhirnya masyarakat lagi-lagi menyalahkan pemerintah dalam hal ini, dikarenakan tidak mampu menstabilkan harga bahan pokok pada hari-hari besar, terutama menjelang puasa. Para penjual pun menyayangkan tindakan yang terjadi dipihak penyalur karena sering memberi alasan bahwa bahan pokok banyak yang busuk atau para petani kesulitan dalam memanen bahan pokok.
 
Yang menjadi pertanyaan, mengapa selalu terjadi ketika menjelang bulan puasa dan nantinya ketika menjelang hari raya lebaran? Tentu ini menjadi polemik dari tahun ke tahun.

pemerintah yang memiliki wewenang dalam hal ini, seharusnya bisa mengendalikan harga dengan baik, dan mencari tahu asal-usul hingga akar penyebab tersendatnya bahan pokok sampai kepada penjual.  Karena dengan begitu harga bisa dikendalikan dengan baik, dan ada keuntungan timbal balik antara masyarakat dan penjual.

Bila perlu, kenakan sanksi tegas kepada mereka yang bermain dalam menaikan harga dan menghambat penyalur menyalurkan bahan kepada penjual. Hal tersebut pantas dilakukan, karena hal ini selalu terjadi dari tahun ke tahun, sudah sepantasnya pemerintah benar-benar merealisasikan penyelesaianya.

Jika perlu, dinas-dinas pemerintahan yang terkait, melakukan sidak dan investigasi dari penjual, penyalur hingga ke petani, agar menemukan sumber darimana asal muasal tidak terkendalinya harga tersebut.

Bersama Atasi Kejahatan Dalam angkot

MEREBAKNYA kasus kejahatan di angkot, sepertinya menjadi gambaran, bahwa pelayanan transportasi umum, tidak hanya mengecewakan tapi juga mengerikan. Pasalnya, sudah dua kali kasus kejahatan terjadi ketika seseorang menggunakan jasa transportasi umum. Dan, mungkin dua kali itu hanya bilangan yang menjadi sorotan media saja, tentu masih banyak kasus-kasus tentang moda transportasi yang digunakan oleh banyak orang ini. Sungguh ironi, moda transportasi yang sangat besar peminatnya ini, kini ditakutkan menjadi ladang subur kejahatan.

Adanya sopir “tembak”, dan kurangnya pengawasan yang dipegang Dinas Perhubungan dan kepolisian dianggap beberapa penyebab terjadinya kejahatan yang terjadi di moda transportasi ini. Namun, bukan berarti hal ini menjadi tanggung jawab penuh pemerintah. Hal ini juga berlaku bagi kita selaku masyarakat. 

Selayaknya ketika mengunakan angkot atau moda transportasi umum, seseorang diharap tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan, atau mengeluarkan barang-barang mewah ketika di dalam angkot karena akan mengundang para penjahat mengincar Anda sebagai korbanya.

Perempuan, yang dalam hal ini adalah pihak yang lebih sering menjadi korban tindak kejahatan diangkot, juga harus lebih berhati-hati. Karena kejahatan, terkadang terjadi karena adanya kesempatan, dan adanya undangan dari perempuan itu sendiri, seperti memakai pakaian ketat, tipis, dan ekstramini sehingga membuat seseorang meningkat hawa nafsunya, dan ini ditakutkan dapat memicu tindak kejahatan.

Oleh karena itu, adanya pengawasan dari Dinas Perhubungan dan pihak kepolisian serta adanya kesadaran dari diri sendiri dengan tidak berlebihan dalam memakai busana dan tidak mengeluarkan barang-barang berharga ketika di dalam angkot, merupakan wujud yang harus kita lakukan sebagai rangka kebersamaan menghancurkan rantai kejahatan yang ada di dalam angkot.

Adanya responsif yang cepat dan akurat diharapkan datang dari Dinas Perhubungan dan kepolisian dalam menindak setiap tindak kejahatan di dalam angkot. Bila perlu, masyarakat selalu membawa alat antikejahatan di dalam tasnya, untuk sewaktu-waktu bila terjadi kejahatan. Jangan takut melapor kepada polisi bila ada tindakan kejahatan yang menimpa seseorang. Hingga akhirnya, kejahatan didalam angkot dapat diminimalisasi.

Angga Bratadharma
Jakarta

(Dimuat media, Lampung Post, tanggal Jumat, 23 September 2011)

Indonesia Bisa

INDONESIA menjadi tuan rumah SEA Games tahun ini, tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita. Indonesia diharapkan mampu menjadi juara di berbagai cabang. Rakyat Indonesia tentu optimis. Meski dalam perjalanan menjadi tuan rumah Indonesia dihadapi dalam berbagai masalah, baik dugaan korupsi pengadaan atribut SEA Games, pembangunan wisma atlet, maupun lambatnya pembangunan berbagai infrastruktur. Rakyat optimistis atlet Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa.

Ini terbukti dari pengalaman sebelumnya, ketika timnas ke final melawan Malaysia. Kala itu bangsa Indonesia menghadapinya dengan euforia di seluruh lapisan. 

Di SEA Games mendatang, kita harus lebih optimistis karena kita memiliki atlet-atlet yang luar biasa berprestasi, dan memiliki potensi untuk mengharumkan nama Indonesia di mata internasional. Maju Indonesia, kita pasti bisa!!!

Angga Bratadharma
Bekasi
(Dimuat Media, Fokus Publik, Republika, tanggal 3 November 2011)

UU Penaikan Tarif Tol dan UU Peningkatan Jasa Tol

PENAIKAN tarif tol (lagi) sepertinya menjadi masalah baru bagi masyarakat, terutama mereka yang menggunakan jasa tol. Banyak masyarakat menggunakan jasa tol untuk menghindari kesemrawutan jalan di Kota Jakarta.

Namun, penaikan tarif tol itu dirasa tidak memiliki alasan yang kuat meski dalam hal ini dikaitkan dengan peningkatan inflasi yang terjadi. Penaikan itu tidak dibarengi dengan perbaikan budaya organisasi yang baik dan pelayanan infrastruktur yang memadai. Ironisnya.-tidak jarang mobil yang mogok di dalam tol harus berhadapan dengan derek liar. Belum lagi beberapa bagian jalan tol bergelombang dan penambal-an-penambalan jalan justruberdampak ketidaknyamanan dalam berkendara.

Memang penaikan tarif tol sesuai dengan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, yakni penaikan tarif tol dilakukan setiap dua tahun dan disesuaikan dengan inflasi. Penaikan dilakukan untuk mempertahankan internal rate of return atau pengembalian investasi.

Namun, jika dilihat dari kesemrawutan jalan di Kota Jakarta, tentu para pengguna jasa tol menginginkan perubahan dan peningkatan kenyamanan juga. Tidak hanya tarif tol, tetapi internal organisasi dalam melayani masyarakat. Bila tidak, bagaimana masyarakat bisa dire-dam dan mulut mereka ditutup hanya dengan mengatasnamakan rakyat?

Di era sekarang, sewajarnyamasyarakat menjadi salah satu pengawas dalam usaha negara membangun dan menyejahterakan rakyatnya. Oleh karena itu, tidak adil rasanya bila hanya tarif tol yang dinaikkan tanpa ada perbaikan signifikan terhadap budaya organisasi pengelola tol.

Sungguh bijak bila pemerintah juga ikut mendengar aspirasi masyarakat tentang keluhan-keluhan terkait dengan kepuasan penggunaan jasa tol. Syukur-syukur, bila inflasi turun, terjadi penurunan tarif tol juga.
Namun, yang menjadi fokus ialah bagaimana pemerintah bisa meningkatkan kualitas kinerja dalam segala aspek, tentu dalam hal peningkatan jasa tol.

Angga Bratadharma
Bekasi
(Dimuat Media, Opini Publik, Media Indonesia, tanggal 12 September 2011)

Pendidikan Bekal Penting

Pendidikan, merupakan bekal penting yang harus dimiliki dari kita semua selaku generasi bangsa ini. Namun, banyak dari kita tidak bisa merasakan pendidikan secara penuh dikarenakan berbagai macam masalah yang dihadapi. Tetapi, banyak dari kita mampu merasakan pendidikan secara penuh tapi kita sia-siakan.

Potret dilapangan, lebih dari 50% lebih, saudara-saudara kita tidak bisa merasakan pendidikan secara penuh. Bahkan, program 9 tahun pun tidak mampu didapatkan oleh mereka sebagai keluarga prasejahtera.

Ini dikarenakan banyaknya permasalahan hidup dinegeri ini. Masalah ekonomi, biasanya menjadi alasan utama saudara-saudara kita. Parahnya, program 9 tahun, yang menjadi kebijakan pemerintah untuk menggratiskan pendidikan hingga tingkat SMA, tidak mampu merealisasikan generasi bangsa ini dalam membumihanguskan kebodohan.

Didalam kebijakan tersebut pun, masih banyak intrik-intrik kepalsuan dan pungutan-pungutan liar yang siap menghadang para murid dan wali murid. Alhasil, banyak dari keluarga prasejahtera tidak mampu melanjutkan pendidikanya.

Namun, dari itu semua, sadarkah kita, banyak dari kita telah menyia-nyiakan pendidikan. terutama, banyak dari kita termasuk kedalam kategori keluarga mampu. Bahkan, kita bisa melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi lagi. Tetapi, kita lebih sering menyia-nyiakan pendidikan kita.

Padahal, masih banyak saudara kita yang ingin bersekolah atau merasakan pendidikan tetapi terhambat faktor lain sehingga tidak bisa merasakan nikmatnya pendidikan. Tetapi tidak deimikian dengan keluarga mampu tapi menyia-nyiakan pendidikanya.

Tentu ini berada disatu mata keping uang, satu sisi ingin sekolah tapi tidak memiliki uang, sisi lain menyia-yiakan pendidikan tapi masuk kedalam kategori keluarga mampu.

Entah apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Apakah kapitalis dan liberal yang dianut negara ini, menjadikan kita lupa kepada saudara kita yang tidak mampu mengenyam pendidikan?, ataukah kita telah terbuai dengan berlimpahnya harta sehingga merasa mampu membeli apa saja didunia ini? Mungkin masing-masing individu bisa menyikapi masing-masing.

fokus dalam hal ini adalah, mengapa banyak dari kita menyia-nyiakan pendidikan. Padahal, banyak dari saudara kita yang tidak mampu mengenyam pendidikan, menginginkan nikmatnya penddikan.

Oleh karenanya, pendidikan, tempat ditempanya mahluk intelektual, seharusnya bisa menjadi tempat dihasilkannya insan yang peka akan masalah sosial yang terjadi dilingkungan sekitar. Terlebih, bermunculan manusia yang mampu berjuang untuk mereka yang tidak mampu mengenyam pendidikan.

Sebagai manusia yang diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, mari kita pergunakan kesempatan itu dengan baik. Karena dengan adanya pendidikan, maka kita bisa melanjutkan kehidupan ini dengan baik dan terarah sesuai tuntunan yang positif.

Maka, saudaraku, mari kita maksimalkan pendidikan yang kita rasakan, dengan tidak menyia-nyiakan pendidikan yang kita dapatkan sekarang. Karena banyak diluar sana yang tidak bisa mengenyam pendidikan karena terbentur berbagai masalah yang ada.

09 Oktober 2011

Penyakit Moral

Fenomena alam yang sering terjadi, terutama yang terjadi di Indonesia adalah sebuah bukti keberadaan dan kebesaran yang dimiliki sang Khalik, yaitu Allah SWT. Fenomena yang terjadi, mulai dari awan yang berlafaz Allah, laa illa ha illallah, Muhammad SAW, langit terbelah, pelangi, gempa, dan semacamnya adalah sebuah keagungan dan kekuasaan yang dimiliki Allah. Dan sepatutnya kita mengaggungkanya dengan baik tanpa menempelkan stempel yang menyimpang. 

Maksudnya adalah kita tidak melihat itu sebagai sesuatu yang berlebihan, dan berorientas kepada mengesakan Allah SWT.

Mengapa demikian? Karena potret di bangsa ini, masih banyak saudara-saudara kita yang mengaitkan fenomena alam dengan sesuatu yang menyimpang. Hal ini bisa kita lihat dari tayangan dibeberapa media massa, kita akan menemukan sekelompok orang akan memberikan sesajen kepada suatu penunggu daerah, entah gunung, danau ataupun semcamnya, agar daerahnya tentram, batu yang disambar petir dan diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit, tentu tanpa memperhitungkan nilai logika dan rasionalitas, air yang menyembur dari batu, diyakini dapat membawa kekayaan, dan semacamnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Hal ini sangat disayangkan. Karena hal itu telah menyimpang jauh dari kebenaran logika dan rasional manusia. Padahal, terdapat sunatullah yang jelas dalam penciptaan yang telah Allah SWT ciptakan. Yang mana keseluruhanya telah tertata dengan sempurna dan rapih sehingga tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa adanya sepengetahuan Allah SWT. Oleh karenanya, pasti terdapat  proses panjang dan adanya penyertaan doa dan kerja keras dalam mencapai suatu tujuan yang hendak dicapai individu, yaitu kebahagiaan yang hakiki.

Jad, fenomena alam yang terjadi, yang populer dalam masyarakat kita, tidak lain semata-mata merupakan kebesaran Allah SWT, maka sewajarnya kita melihat hal tersebut dengan baik, dan tidak mengaitkan dengan sesuatu yang buruk, dan berdampak kepada lunturnya suatu keimanan.

Maraknya mengaitkan fenomena alam, berupa gempa bumi, batu yang diyakini menyembuhkan, mata air yang membawa kekayaan, binatang yang membawa kekayaan, dan semacamnya, merupakan penyinpangan yang terjadi karena proses ketidakberhasilan pemerintah dalam memberdayakan rakyatnya dalam hal mensejahterakan.

Ketidakmerataan kesejahteraan yang didapatkan masyarakat, berimplikasi kepada sakitnya moral bangsa kita sehingga melunturkan nilai-nilai moral yang telah Allah SWT tetapkan dan logika serta rasional manusia yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

Alhasil, berdasar sugesti terhadap suatu fenomena alam ini, menjadikan manusia tertipu dayanya oleh bisikan dan tidak kuatnya pilar keimanan yang dimiliki individu. Ini merupakan tugas berat bagi pemerintah dan masyarkat.

Oleh karena itu, diharapkan masyarkat tidak meyakini suatu fenomena alam dengan mengaitkan kepada sesuatu yang menyimpang dari nilai-nilai mulia dan logika berpikir. Setiap individu diharap mampu membredel pemikiran yang ditakutkan mentuhanka sesuatu yang lain selain Allah SWT.

Dalam suatu analisis, individu yang meyakini hal-hal yang kaitanya dengan mistik, terdapat suatu  keinginan untuk membenarkan mistis tersebut, dan nantinya dijadikan nilai-nilai dalam kehidupanya. Bahkan, parahnya bisa menjadi sebuah budaya didalam suatu kelompok.

Lemahnya pendidikan, pengetahuan, ajaran logika rasional yang wajar, dan tidak masuknya pembelajaran agama dalam suatu kehidupan secara masif dan preventif, disinyalir menjadi penyebab timbulnya penyakit moral. Hingga akhirnya, lebih mengedepankan emosi tanpa pikiran kritis.

Tentu ini telah menjadi budaya berpikir masyarkat kita. Dan hal ini sangat disayangkan, oleh sebab itu harus ada pelurusan ahlak dan pembentukan karakter berbasis agama dalam membenahi penyakit yang timbul dimasyarakat kita.

Harus kita sadari, bahwasnya terdapat sebab-akibat dalam kehidupan ini. Dan, sunatullah yang Allah ciptakan bersifat pasti dan objektif. Maka, bila seseorang ingin sukses dalam hidupnya, diharapkan sadar akan potensi yang dimilikinya dan memberdayakan serta berusaha untuk mewujudkan harapan tersebut sesuai dengan kaidah yang berlaku. Hal itu juga berlaku dengan yang lainnya, bila seseorang ingin pintar, maka belajar. Jika ingin kaya, maka berusaha dan berdoa, dan seterusnya.

Adanya penyakit moral yang terjadi terkait fenomena alam ini, harus dikritisi dengan baik, dan jangan menelan bulat-bulat informasi yang tidak terbukti kebenaranya atau menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul Allah. Maka, adanya pendidikan nilai-nilai dan pemenuhan kebutuhan secara fisik dan spritual yang benar, diharapkan muncul dari setiap individu dan pemerintah selaku pemegang otoritas dalam negara ini. Untuk saling mengisi kekosongan antara individu.

Dengan tujuan itu, diharap dapat menyembuhkan penyakit moral yang terjadi terkait fenomena alam yang terjadi. Karena fenomena yang terjadi, semata-mata merupakan kebesaran Allah SWT. Bukan karena adanya kekuatan lain tanpa seizin-Nya.